Langsung ke konten utama

[AWALI MAKAN DENGAN BASMALLAH] #NulisRabiulAwal

 


Betapa sering kita melihat anak kecil yang mau makan lalu berucap, “Ayo baca bismillah dulu” atau “Baca apa dulu sebelum makan anak manis?”. Hal itu entah spontan atau memang sedang mendidik sejak dini atau latah begitu saja, namun merupakan hal yang paling membekas dan mengisi memori mereka. Bisa jadi hal itu terjadi pada kita sendiri waktu kecil.

Pernahkah hal sederhana itu, maksudnya menasehati agar sebelum makan membaca basmallah  kita sampaikan pada teman seusia yang telah remaja, dewasa bahkan tua? Atau jangan-jangan malah diri sendiri selalu kelolosan tanpa baca apa pun saat melahap makanan.

Membaca basmallah sebelum makan mungkin terlihat biasa, tidak istimewa amat.  Tapi taukah, hal itu yang dilakukan oleh manusia paling mulia teladan kita semua. Rasulullah Muhammad saw.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: ‘Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)’.“ (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

 

Demikianlah adab dalam bersantap, ketika lupa diawal dan mengingatnya pada pertengahan pun Rasulullah saw. meminta kita mengucap bismillah.

 

Bahkan dalam hadis lain disebutkan, tiap makanan yang tidak disebutkan nama kala mencicipinya termasuk makanan setan. Dari Hudzaifah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

 “Sungguh, setan menghalalkan makanan yang tidak disebutkan nama Allah padanya.”( HR. Muslim)

 

Begitulah kita, kian dewasa cenderung lupa sesuatu yang pernah diajarkan pada anak, tapi sering keterusan tidak diterapkan pada diri sendiri. Berhentilah beralasan karena faktor “U” alias usia. Bukankah sesuatu yang sering dilakukan berbuah jadi kebiasaan atau habits.

Mengucap basmallah sesungguhnya tidak mengurangi sedikit pun makanan yang sudah tersedia untuk kita, padahal makanan itu pun rezeki dari Allah Swt. Bisa jadi selama ini sulit merasa cukup dan kurang berkah karena kita menyantapnya bersama setan. Wallahu’alam. (*)

28082026
#NulisRabiulAwal #NulisRabiulAwal_03 #rehatiwan #rehatiwaninspiring #MariBerbagiMakna #IWANwahyudi
@rehatiwan Rehatiwan Inspiring
www.rehatiwan.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[MENGABADIKAN TULISAN]

  "Menulis adalah bekerja untuk keabadian" -Pramoedya Ananta Toer (Pram)- Setelah melalui berbagai macam proses hingga melahirkan sebuah tulisan, sebagian dari kita merasa telah final goresan itu akan abadi sebagaimana perkataan Pramoedya Ananta Toer di atas. Segolongan dari kita malah selangkah agak jauh mempostingnya apa akun media sosial. Agar kata-kata buah penanya segera menemui pembaca. Supaya makna yang ingin disampaikan tak menunggu lama untuk terus terbagai. Biar amal jariyah manfaat kalimat-kalimat ajakan dari teks itu mulai mengalir deras pada penulisnya. Saya pernah merasa kehilangan dari tulisan-tulisan yang susah payah dan memakan banyak waktu menenunnya. Karena file termakan virus, hardisk rusak tak bisa dibuka, android hilang atau dicuri orang hingga akun media sosial di hack atau blokir. Itu sebagai penanda hilangnya "keramat" keabadian tulisan saya, anda dan kita. Dari semua dinamika itu, saya sampai pada sebuah ujung. Setiap tulisan harus ...

[Haji Agus Salim: Siswa Lulusan Terbaik Hindia Belanda yang Beasiswanya Ditolak] #MudaMenyala

  Oleh: Iwan Wahyudi Penulis Buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri”   USIANYA masih 19 tahun ketika meraih predikat lulusan terbaik Hogere Burger School (HBS) atau sekolah menengah di seluruh Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada 1903. Dengan kepintaran tersebut setidaknya akan menjadi tiket mulus beasiswa melanjutkan belajar kedokteran ke Belanda. Tapi usulan beasiswanya ditolak. RA. Kartini yang mendapat beasiswa untuk belajar ke Belanda, karena terkendala “tradisi” perempuan tidak boleh sekolah apalagi jauh ke luar negeri, meminta agar beasiswanya dialihkan ke pemuda kelahiran Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat 8 Oktober 1884 itu. Dan dikabulkan pemerintah Belanda. Sang pemuda yang terlanjur layu akibat kecewa oleh kebijakan beasiswa Belanda, malah menolak beasiswa pengganti dari RA. Kartini. Pendiriannya teguh, beasiswa harus berdasarkan kemampuan bukan kasihan. Kepandaian diri, bukan sekadar pengganti. Apalagi siasat kolonialisme bangsa penjajah. Nasionalismenya...

[BELAJAR KEGAGALAN DARI ORANG GAGAL]

Anehkan? Ketika semua orang beramai-ramai mengikuti orang sukses, membaca kisah-kisah keberhasilan para tersohor, mengamalkan tips-tips  jitu mereka yang hebat, kenapa harus belajar pada orang gagal? Setiap orang dimuka bumi ini 100% tak ada yang luput dari kegagalan karena ia adalah hukum alam yang tak bisa dilenyapkan.  Kegagalan seakan menjadi virus yang menakutkan, setiap sekeliling kita ada yang disinggahinya kita menjauhi bahkan membully dan menjadikannya sebuah icon " kamu jangan jadi seperti si x ya, dia itu gagal karena bla....bla...bla...". Ah seakan ķita tak pernah gagal dan kegagalan kita seperti hal yang wajar, namun jika orang lain gagal itu adalah barang tabu, aib, haram. Sesungguhnya mereka yang pernah gagal akan paling mengerti dan menghargai seberapa berharganya nikmat anugerah kesuksesan, dan mereka yang selalu mulus melangkah dalam keberhasilan tak semuanya mampu berdiri kokoh saat di sapa kegagalan. Mempelajari kegagalan orang artinya kita men...