Ada yang menilai sesuatu sebatas seremonial, ramai
tapi singkat, riuh tapi kering, gemerlap namun tak bertahan, semarak namun
cepat berlalu.
Kadang ada yang memaknainya lebih dalam dari sebab
musabab hadirnya. Merasakannya tak singkat karena mempertahankan
keistimewaannya dalam berlaku. Menjadikannya titik tolak dari semua perubahan
yang ingin diraih.
Muharram akan masuk sepertiga akhir. Bahkan sebagian
orang sudah mulai kembali ke mode awal. Tak ada kalender baru seperti masehi
yang berganti di dinding kamar dan kantor. Nggak ada perubahan kaku dalam
menuliskan tanggal efek tahun dan bulan baru.
Refleksi dan resolusi di awal tahun kadang cuma
formalitas. Ritual tahunan atau cuma sekadar kebutuhan konten dan postingan
media sosial agar nampak kekinian.
Muharram penanda peristiwa hijrah. Ia juga harus
menjadi titik tolak perubahan dalam diri.
Muharram lembaran baru dari halaman buku tahunan. Tentu
bosan menulis hal yang sama, hambar mencatat hal yang serupa, atau hampa cuma
menghitung angka statistik dosa dan salah saja.
Muharram langkah untuk berani memulai berbenah,
merubah grafik kebaikan agar tidak stagnan dan jeblok. Menekan khilaf agar melejit
cepat kembali pada titik nol. Menata ulang keteraturan dari tanpa arah serta
berantakan.
Muharram. Mungkin terlalu melangit mengucap
"revolusi" diri. Terlalu takjub bermimpi restorasi kerja. Kita cuma
perlu berbenah dari yang kecil sesuai kemampuan, hanya harus berubah dari yang
terdekat dan dapat tergapai, berkelanjutan bukan instan sesaat yang cuma
berusia pendek.
Muharram, kita mulai saja dengan bismillah agar
semuanya cuma untuk-Nya semata.
#reHATIwan #reHATIwanInspiring #Muharram #1448H #IWANwahyudi
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar