Ngopi "darurat" karena kilat dan buru-buru bareng "Manajer" Muhammad Ardiansyah setelah panca warsa tak bersua. “Culik” sejenak 30 menit saat jam istirahat dari tempatnya pelatihan di sebuah hotel. Perjumpaan kurang lengkap tanpa Direktur Yeyen Febrianto.
Saya biasa memanggil beliau dengan "Manajer". Ketika di kampus Universitas Teknologi Sumbawa ia salah satu manajer di bawah Direktorat IT. Pak Direktur Yeyen sering menyapanya 'Manajer' demikian juga kami ketularan saling memanggil dengan posisi struktural kala itu dan kelolosan hingga sekarang.
Jangan heran jika sampai sekarang ada yang masih kami sapa dengan Pak Rektor, Bang Warek, Adinda Dekan, Pak Kepala, Dae Ketua dan sejenisnya. Ini bukan “gila jabatan” atau belum bisa move on dari posisi sebelumnya.
Sesungguhnya panggilan sebuah bentuk penghormatan, keakraban dan doa kebaikan selain nama yang telah diberikan oleh orang tua. Panggilan yang baik adalah ajaran mulia dalam Islam.
“…Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk…” (QS.al-Hujarat: 11)
Hal terkait erat pula dengan bully membully yang marak dan menimbulkan kebencian juga menindas seseorang secara tidak langsung. Terutama dalam bentuk verbal, bisanya panggilan dengan kekurangan fisik. Islam telah melarang itu semua lebih dari 14 abad silam.
Efek dari panggilan yang baik kian membuat hubungan makin akrab, menunjukan ketinggian akhlak dan adab saling menghormati dan menempatkan seseorang, dan menumbuhkan rasa percaya diri yang berdampak positif secara psikologis bagi kedua pihak terutama orang yang dipanggil. (*)
#Gerimis30Hari #Gerimis_Jun26_14#Panggilan #Nama #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi
@gerimis30hari @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar