Langsung ke konten utama

[DHUHA DULU SEBELUM KELUAR RUMAH] #CatatanSyawal 13

 


Oleh: Iwan Wahyudi
(Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”)
 
Belasan tahun lalu pagi-pagi sekali saya perlu menghubungi seorang dokter yang juga kepala RSUD. Bukan terkait kedaruratan penanganan orang sakit, tapi minta persetujuan penggunaan salah satu ruang yayasan yang beliau bawahi untuk sebuah pertemuan.
 
Saya tak menggunakan waktu Subuh menghubungi, karena waktu privasi setiap orang hingga mau berangkat kantor, juga disibukan dengan persiapan mengantar anak sekolah.
 
Saya memilih pukul 7 pagi, sebelum ia tiba di kantor dan bergelut dengan kesibukan melayani masyarakat. Di ujung sana telpon saya di angkat oleh anaknya. Dari suaranya saya bisa menerka seusia Sekolah Dasar, "Bapak masih shalat Dhuha, nanti hubungi kembali 5 menit lagi ya." Demikian pesannya.
 
Dhuha yang identik dengan salah satu shalat sunah dan salah satu nama surah dalam Al-Qur'an itu merupakan sepenggalan waktu yang selalu semua makhluk lewati tiap harinya.
 
Rentang waktu yang dimulai sejak matahari terbit dan naik setinggi satu tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbit/syuruk) hingga sesaat sebelum masuk waktu Zuhur. Mulai sejak pukul 06.30 pagi lah.
 
Ini waktu yang sangat "ribet" dan sibuk. Dari bangun tidur, bersih-bersih diri dan kamar/rumah, persiapan sekolah dan kerja, perjalanan ke tempat beraktivitas, rutinitas awal waktu kerja hingga rapat yang banyak menjadi waktu favorit (karena berakhir sebelum jam 12 siang tak perlu keluar anggaran konsumsi makan siang).
 
Wajar jika shalat sunah Dhuha agak sedikit terlupakan. Teringat, tapi tak sempat. Diniatkan, namun situasi tak mengizinkan.
 
Sang dokter dalam cerita di awal tulisan ini menjadi salah satu sentilan bagi saya pribadi. "Pak dokter kok masih sempat shalat Dhuha toh." Dengan segala kesibukan yang masuk logika bila dijadikan alasan, apalagi ini cuma shalat sunah, tak berdosa juga bila ditinggalkan.
 
Pesan yang saya petik secara personal. Selesaikan semuanya sebelum keluar rumah. Di luar sana terlalu banyak kambing hitam yang bisa kita salahkan. Kecuali anda anak sekolah yang punya program shalat Dhuha berjamaah sebelum masuk jam pelajaran. Dijamin beres dan tak ketinggalan shalat Dhuha.
 
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan, “Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha dengan tetap rutin, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap rutin.” (HR. Bukhari)
 
Jika tempat kerja jauh dan berangkat sebelum masuk waktu Dhuha, shalat Dhuha bisa dilakukan ditempat kerja. Anak sekolah dari masuk di pagi hari hingga waktu Zuhur punya jam istirahat. Saya yakin tidak semua pekerja, karyawan dan sejenisnya masuk pagi kemudian kerja nonstop hingga tidak ada istirahat atau tidak boleh ke toilet sebentar pun hingga istirahat shalat Zuhur.

Kita bisa sedikit “mencuri” waktu bila tak bisa menyisihkan waktu untuk shalat Dhuha. Kok jadi perhitungan dan pelit sih. Padahal yang memberi waktu semua makhluk Allah swt, shalat Dhuha juga beribadah pada Allah swt.

Memang apa keistimewaannya shalat Dhuha Bang? kok dibela-belain amat.

Hadis berikut bisa menjadi pegangan dan alasan kita menunaikan shalat Dhuha,

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat (HR. Muslim)

Dalam semua perintah dan kebaikan yang ada dalam ayat-Nya dan apa-apa yang dianjurkan oleh rasul-Nya tak lain untuk kebaikan kita pula sesungguhnya.
 
Cordova Street A-03, 2 April 2026
#reHATIwan #reHATIwanInspiring #MariBerbagiMakna #IWANwahyudi
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

151 [KUAT BERSAMA-NYA]

  Kita telah sampai pada pertengahan tahun 2026, akhir bulan Juni. Dan juga bersamaan dengannya menapaki awal tahun baru Islam 1448 Hijriyah. Banyak waktu yang terlewati, banyak peristiwa terlalui dengan beragam ujian yang tak kecil, kadang di luar prediksi. Lalu kenapa dan bagaimana diri bisa sampai titik ini dengan berbagai deraan yang begitu keras, bahkan sempat tersungkur itu? Hari-hari dan tahun berikutnya mustahil ada jaminan, tanpa ujian. Bukan manusia bila tak diuji, bukan hidup jika ujian berhenti. Kualitas orang terlihat dari seberapa sering berhadapan dengan ujian. Level seseorang terbentuk dari seberapa kuat melewati ujian berat. “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dari besarnya ujian. Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang rida dengan ujian itu, maka dia mendapat rida-Nya. Siapa yang membenci ujian itu, maka Allah memurkainya.” (HR. at-Trmidzi dan Ibnu Majah) Ujian jangan disempitkan hanya berupa penderitaan sema...

152 [Iblis Menyesatkan Manusia dengan Kejahatan yang Terasa Indah]

  Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.” (QS.Al-Hijr: 39-40) Iblis sudah mendeklarasikan dirinya akan menggoda dan menyesatkan keturunan Adam as. Bahkan telah meminta garansi waktu upaya penyesatan itu dalam jangka panjang hingga hari kiamat. Manusia sebenarnya harus sadar, bahwa pernyataan perang Iblis itu bukan main-main dan dianggap sepele. Mereka akan menggunakan segala sumberdaya dan cara. Mode nampak bahkan jalur kasat mata. Rayuan Iblis selalu menggoda, memoles kejahatan dalam rupa yang indah, memuaskan nafsu, menghadirkan kegembiraan semu bila disadari. Melawan perang yang tak sebanding dengan makhluk satu ini tentu akan membuat kewalahan. Namun, ada satu senjata yang ditakuti mereka. Menjadi hamba-hamba Allah swt yang ikhlas. Cordova StreetA...

148 [JUNI EMPAT PRESIDEN]

  Saya pada awalnya sama dengan kebanyakan orang lainnya, hanya melabeli bulan Juni sebagai bulang Bung Karno. Sebabnya jelas, Presiden pertama RI itu lahir, wafat dan berpidato tentang Pancasila pada bulan Juni. Ternyata kemudian baru sadar tiga Presiden lainnya juga lahir pada bulan Juni. Ir. Soekarno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 6 Juni 1901. Ia menjabat Presiden sejak 18 Agustus 1945 hingga 12 Maret 1967. Si Bung Besar berpidato tentang Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Ia wafat pada usia 69 tahun di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970. Presiden paling lama menjabat tak lain adalah Jenderal Besar Soeharto. Ia menjabat sejak 12 Maret 1967 sampai 21 Mei 1998. Lahir di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Presiden kedua RI ini tutup usia di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie, men...