Oleh: Iwan Wahyudi
(Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”)
Belasan tahun lalu pagi-pagi sekali
saya perlu menghubungi seorang dokter yang juga kepala RSUD. Bukan terkait
kedaruratan penanganan orang sakit, tapi minta persetujuan penggunaan salah
satu ruang yayasan yang beliau bawahi untuk sebuah pertemuan.
Saya tak menggunakan waktu Subuh
menghubungi, karena waktu privasi setiap orang hingga mau berangkat kantor,
juga disibukan dengan persiapan mengantar anak sekolah.
Saya memilih pukul 7 pagi, sebelum
ia tiba di kantor dan bergelut dengan kesibukan melayani masyarakat. Di ujung
sana telpon saya di angkat oleh anaknya. Dari suaranya saya bisa menerka seusia
Sekolah Dasar, "Bapak masih shalat Dhuha, nanti hubungi kembali 5 menit
lagi ya." Demikian pesannya.
Dhuha yang identik dengan salah satu
shalat sunah dan salah satu nama surah dalam Al-Qur'an itu merupakan
sepenggalan waktu yang selalu semua makhluk lewati tiap harinya.
Rentang waktu yang dimulai sejak
matahari terbit dan naik setinggi satu tombak (sekitar 15-20 menit setelah
terbit/syuruk) hingga sesaat sebelum masuk waktu Zuhur. Mulai sejak pukul 06.30
pagi lah.
Ini waktu yang sangat
"ribet" dan sibuk. Dari bangun tidur, bersih-bersih diri dan
kamar/rumah, persiapan sekolah dan kerja, perjalanan ke tempat beraktivitas, rutinitas
awal waktu kerja hingga rapat yang banyak menjadi waktu favorit (karena
berakhir sebelum jam 12 siang tak perlu keluar anggaran konsumsi makan siang).
Wajar jika shalat sunah Dhuha agak
sedikit terlupakan. Teringat, tapi tak sempat. Diniatkan, namun situasi tak
mengizinkan.
Sang dokter dalam cerita di awal
tulisan ini menjadi salah satu sentilan bagi saya pribadi. "Pak dokter kok
masih sempat shalat Dhuha toh." Dengan segala kesibukan yang masuk logika
bila dijadikan alasan, apalagi ini cuma shalat sunah, tak berdosa juga bila
ditinggalkan.
Pesan yang saya petik secara
personal. Selesaikan semuanya sebelum keluar rumah. Di luar sana terlalu banyak
kambing hitam yang bisa kita salahkan. Kecuali anda anak sekolah yang punya
program shalat Dhuha berjamaah sebelum masuk jam pelajaran. Dijamin beres dan
tak ketinggalan shalat Dhuha.
Diriwayatkan pula oleh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan, “Aku tidak melihat Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam melakukan shalat Dhuha dengan tetap rutin, tetapi sungguh aku
melakukannya dengan tetap rutin.” (HR. Bukhari)
Jika tempat kerja jauh dan berangkat sebelum masuk
waktu Dhuha, shalat Dhuha bisa dilakukan ditempat kerja. Anak sekolah dari
masuk di pagi hari hingga waktu Zuhur punya jam istirahat. Saya yakin tidak
semua pekerja, karyawan dan sejenisnya masuk pagi kemudian kerja nonstop hingga tidak ada istirahat atau
tidak boleh ke toilet sebentar pun hingga istirahat shalat Zuhur.
(Penulis Buku “Hidup adalah Catatan”)
Kita bisa sedikit “mencuri” waktu bila tak bisa menyisihkan waktu untuk shalat Dhuha. Kok jadi perhitungan dan pelit sih. Padahal yang memberi waktu semua makhluk Allah swt, shalat Dhuha juga beribadah pada Allah swt.
Memang apa keistimewaannya shalat Dhuha Bang? kok dibela-belain amat.
Hadis berikut bisa menjadi pegangan dan alasan kita menunaikan shalat Dhuha,
“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat” (HR. Muslim)
#reHATIwan #reHATIwanInspiring #MariBerbagiMakna #IWANwahyudi
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar