Begitulah watak penjajah, merampas tanpa mengenal etika dan kemanusiaan. Mentalitas jahat tak mungkin mengenal nilai kemanusiaan dan keyakinan (agama). Saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan, Belanda melakukan penyerangan, Agresi militer. Bahkan memang di sengaja karena mereka berasumsi saat Ramadan, ketika berpuasa, saat lapar itulah titik lemah umat Islam. Pastinya tidak akan maksimal bertahan atau malakukan perlawanan.
Umat Islam baru saja usai menunaikan Ibadah Puasa hari kedua. Hari ketiga bulan penuh berkah itu tiba-tiba terjadi penyerangan mendadak. Dan serangan itu sebuah pelanggaran dari sebuah kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Hari itu akan selalu di ingat oleh sejarah Indonesia. 3 Ramadan 1366 H, bertepatan dengan Senin 21 Juli 1947. Pasukan Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata dengan kubu Republik, menyudahi upaya diplomasi antara Belanda dan kubu Republik untuk sepakat gencatan senjata pada Oktober 1946 dan Persetujuan Linggarjati pada Maret 1947. Tak memakan waktu lama serdadu-serdadu Angkatan Darat Belanda (Koninklijke Landmacht/ KL) dan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger/KNIL) bergerak sekitar pukul 11 malam dengan menduduki gedung - gedung Republik di Jakarta. Saat itu Presiden Sukarno sudah tinggal di Istana Gedung Agung Yogyakarta. Ibukota Republik sudah pindah ke Yogyakarta karena gerak-gerik tentara Belanda sebelumnya membuat kondisi Jakarta tidak aman.
OPERASI Produk (Operatie Product, merupakan istilah yang dibuat oleh Letnan Gubernur Jenderal Johannes van Mook) atau Aksi Polisionil yang kemudian dikenal dengan agresi militer itu dimulai. Berlangsung dari 21 Juli hingga Agustus 1947 (Agresi Militer I) dan 19 Desember 1948 hingga 5 Januari 1949 (Agresi Militer II). Agresi bukan hanya dilakukan di pulau Jawa, namun juga pulau Sumatera dan wilayah Indonesia lainnya yang baru berusia dua tahun.
Hari ketujuh Ramadan, 25 Juli 1947. Dua kali lapangan terbang Maguwo Yogyakarta diserang oleh Belanda pada siang dan petang hari. Berhasil menghancurkan pesawat-pesawat Cikiu dan Curen milik Angkatan Udara Indonesia, hasil rampasan Jepang di tahun-tahun sebelumnya.
Jika kita menelisik sejarah para penjajah ini, maka dapat ditarik benang merah beberapa strategi perang yang dilancarkan untuk melumpuhan para pejuang Indonesia, baik dulu sebelum merdeka maupun setelah merdeka pada Agresi Militer ini. Strategi tersebut adalah :
1.
Adu Domba (Devide et Impera).
Sebagian anak bangsa yang lemah di imingi kekuasaan dan harta, disatu sisi
mereka yang militan terhadap republik dijadikan musuh bersama penjajah bersama
para pengkhianat tadi. Strategi ini memercik perpecahan dan konfilk fisik
sesama Indonesia. Dan penjajah tinggal memetik hasilnya.
2.
Menyandera keluarga para pejuang. Hal ini terjadi diantaranya keluarga Panglima
Polim, Teuku M Daud Syah dan sebagainya. Penjajah mengaduk emosi dan
perasaan para pejuang dengan menangkap keluarga dan orang-orang tercinta.
3. Meracuni tokoh utama pejuang. Cara licik memang selalu dipakai oleh penjajah biadab. Tiap daerah Indonesia memiliki tokoh kharismatik yang menjadi panutan banyak masyarakat, simbol dan tokoh kunci. Salah satu cara penjajah ialah dengan menangkap, membuang atau jika bisa meracuni membunuhnya (seperti dialami oleh Teuku Cik Ditiro). Dengan cara ini dianggap dapat memadamkan api perlawanan pejuang karena akan kehilangan tokoh yang menjadi penyatu dan penggerak mereka.
4. Menyerang di Bulan Ramadan. Hal ini sering digunakan oleh para penjajah. Anggapan bahwa Ramadan saat berpuasa dan lapar menjadi titik lemah dan mudah untuk mematahkan perjuangan. Bukan hanya penjajah masa lalu, penjajah dan mereka yang berwatak jahat pada umat Islam saat ini masih mempercayai ini. Padahal itu salah sekali. Ramadan, bulan dimana solidaritas spiritual dan solidaritas sosial umat Islam sedang naik dan mudah dipompa. Hal ini bisa dilihat dari banyak peristiwa besar dan bersejarah termasuk peperangan yang dimenangkan oleh ummat Islam saat bulan Ramadan.
Apakah Agresi militer saat bulah Ramadan itu akhirnya melumpuhkan dan menamatkan riwayat Republik ini? Hingga hari ini Negara Kesatuan Republik Indonesia itu masih berdiri dengan Rahmat Allah yang Maha Kuasa sebagaimana di akui dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
”Selama beberapa lamanya dalam bulan suci ini, musuh kita bangsa penjajah Belanda, bangsa reaksioner Belanda, menyerang kita.... Jadikanlah setiap rumah pertahanan. Jadikanlah setiap hutan, sungai, parit-parit, pertahanan kita.” (Soekarno, 24 Juli 1947)
Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Semoga dengan kondisi ekonomi
yang tidak baik-baik saja, bukan melemahkan dan melumpuhkan kekuatan spiritual
dan sosial. Tapi menjadi pijakan dan lompatan untuk lebih melangit lagi dan
terus melangit.
10 Mei 2021
IWAN wahyudi
#JelajahRamadan
#EnergiRamadhan #MariBerbagiMakna #InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi #reHATIwan
#Ramadhan #AgresiMiliter
@iwanwahyudi1
@rehatiwan @rehatiwanInspiring
@inspirasiwajahnegeri
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar