Kasir adalah titik yang selalu
dilewati oleh pembeli. Baik saat memesan, bertanya hingga membayar sebelum
akhirnya pulang. Hal senada saya lakukan ketika ke kedai kopi Wood Coffee sore
tadi. Saat memesan perhatian saya juga tertuju pada rak di sisi kirinya yang
berisi beberapa buku. Buku tentang Lombok, traveling hingga cerita.Tidak banyak
jumlahnya.
Penempatannya yang didekat kasir
pasti memiliki alasan trategis sebagaimana produk lain dilingkaran kasir. Ia
langsung masuk pada psikologi konsumen. Meningkatkan perhatian, pembelian
implusif atau tambahan kecil. Sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.
Cara
ini sangat keren untuk “mencuri” perhatian pada buku diruang publik yang tidak
dikhususkan untuknya. Selain itu sambil menunggu pesanan tiba atau teman duduk
datang, buku bisa menjadi alat membunuh waktu yang membosankan. Walau magnet
gawai sangat membius dan membuat candu saat ini.
Ruang
publik milik pemerintah selayaknya memiliki “Pojok Baca atau Pojok Buku”. Saya
masih ingat semasa jayanya surat kabar alias koran. Di tempat pelayanan publik
yang panjang antrean pendaftaran seperti rumah sakit atau puskesmas, bank,
pembayaran listrik dan air, dan sebagainya, selalu disediakan rak koran. Seharusnya
hari ini hal itu tidak serta merta dimusnahkan dengan dalih lewat media sosial
lebih efektif. Jika sekerdil itu, kenapa perpustakaan kini direhab jauh lebih
megah? Tidakkah sebaiknya dibakar saja hingga tak tersisa.
Diakhir
kunjungan ke kedai kopi yang berlokasi di jalan Pendidikan Kota Mataram itu,
saya menghibahkan satu buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri” untuk di tempatkan pada
pojok istimewa itu. Terima kasih Mbak Ami yang telah menerimanya.
25 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_25 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com
#gerimis30hari
#gerimis_des25_25 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar