Langsung ke konten utama

25 [POJOK BUKU KEDAI KOPI] Gerimis Desember

 


Kasir adalah titik yang selalu dilewati oleh pembeli. Baik saat memesan, bertanya hingga membayar sebelum akhirnya pulang. Hal senada saya lakukan ketika ke kedai kopi Wood Coffee sore tadi. Saat memesan perhatian saya juga tertuju pada rak di sisi kirinya yang berisi beberapa buku. Buku tentang Lombok, traveling hingga cerita.Tidak banyak jumlahnya.
 
Penempatannya yang didekat kasir pasti memiliki alasan trategis sebagaimana produk lain dilingkaran kasir. Ia langsung masuk pada psikologi konsumen. Meningkatkan perhatian, pembelian implusif atau tambahan kecil. Sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.
 
Cara ini sangat keren untuk “mencuri” perhatian pada buku diruang publik yang tidak dikhususkan untuknya. Selain itu sambil menunggu pesanan tiba atau teman duduk datang, buku bisa menjadi alat membunuh waktu yang membosankan. Walau magnet gawai sangat membius dan membuat candu saat ini.
 
Ruang publik milik pemerintah selayaknya memiliki “Pojok Baca atau Pojok Buku”. Saya masih ingat semasa jayanya surat kabar alias koran. Di tempat pelayanan publik yang panjang antrean pendaftaran seperti rumah sakit atau puskesmas, bank, pembayaran listrik dan air, dan sebagainya, selalu disediakan rak koran. Seharusnya hari ini hal itu tidak serta merta dimusnahkan dengan dalih lewat media sosial lebih efektif. Jika sekerdil itu, kenapa perpustakaan kini direhab jauh lebih megah? Tidakkah sebaiknya dibakar saja hingga tak tersisa.
 
Diakhir kunjungan ke kedai kopi yang berlokasi di jalan Pendidikan Kota Mataram itu, saya menghibahkan satu buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri” untuk di tempatkan pada pojok istimewa itu. Terima kasih Mbak Ami yang telah menerimanya.
 
25 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_25 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...