Langsung ke konten utama

197 [BELAJAR DARI JUNIOR]

 

Saya duduk bersama 15 peserta lainnya yang masih berstatus mahasiswa S1 di Aula Gedung D FKIP Universitas Mataram (Unram). Menikmati Ahad pagi 15 Juni 2025 bergabung dengan Seminar Kepenulisan MT Al-Kahfi, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas tersebut.

Narasumber Seminar yang tindak lanjutnya adalah menulis dan menerbitkan buku antologi bersama itu Bang Raden Setiawan (Ketua FLP Kota Mataram) dan Mbak Rahayu Praya Ningsih (Mahasiswa Pasca Sarjana FKIP Unram). Keduanya jelas penulis buku, bukan penikmat buku dan pengunyah teori menulis buku saja.

Bang Raden Setiawan membawakan tema Dakwah dan Kepenulisan. Sedangkan Mbak Rahayu tentang penulisan karya tulis Ilmiah Al-Qur’an.

Peserta dan Narasumber para junior saya. Iseng banget Bang ikut acara itu? Mungkin sebagian yang mengetahui hal itu bertanya heran demikian. Ini bukan masalah usia dan siapa yang paling lama berpengalaman, tapi menyerap ilmu dari siapa pun. Termasuk ilmu tidak sungkan belajar dengan yang lebih muda.

Kaum muda adalah pemilik zamannya. Kita ingin melihat selera dan dan karakter sebuah zaman, maka lihat dan pahami generasi mudanya. Siapa yang bisa masuk, berkompromi, dan berkolaborasi dengan kaum muda, ia bisa membuat perubahan. Ada keperihatinan terhadap gejala sosial kaum muda sekarang, salah satu cara mencari solusinya dengan tidak membuat jarak dan sekat dengan mereka atas nama gengsi dan levelisasi berdasarkan apa pun.

Bertemu dengan orang baru, tempat baru dan suasana yang berbeda akan menumbuhkan banyak ide tulisan. Walau seseorang punya gaya dan ciri tulisan sendiri, tapi tanpa ide,  gaya dan ciri akan tergantung begitu saja tak melahirkan tulisan. Anak muda tempat lahirnya gagasan-gagasan segar.

Dua hal di atas sebagian alasan saya “turun gunung” ngilmu pagi ke Kampus lagi pada para junior. Bukan pura-pura muda atau mencari “suara”.

Jika Umar bin Khatab ra pernah berkata, “Setiap saya menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda.”, tidak ada salahnya bila saya tersandera dengan kebuntuan ide menulis, saya jumpai anak muda.


Cordova Street A-03, 21 Juni 2025

#Gerimis30Hari #Gerimis_Juni25_21 #MariBerbagiMakna #MemungutKatakata #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #InspirasiWajahNegeri @gerimis30hari @ellunarpublish
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

076 [SULTAN ABDUL KHAIR SIRAJUDDIN LAHIR]

  Sultan Ab dul Khair Sirajuddin bergelar Ruma Ta Mantau Uma Jati lahir dilingkungan istana Kesultanan Makassar pada bulan Ramadan 1038 H ( ± April 1627 M). Disamping itu beliau diberi gelar “La Mbila”. Para prajurit Gowa memanggilnya “I Ambela”.   Beliau adalah Sultan ke II Kesultanan Bima. Putra dari Sultan Abdul Kahir I dengan permainsurinya Daeng Sikontu, adik permainsuri Sultan Alauddin Makassar.   Dalam kitab Bo (naskah lama Bima) namanya “Abil Khair Sirajuddin”, tapi pada bagian lain sumber yang sama ditulis “Abdul Kahir Sirajuddin”. Sejak usia kecil ia memperoleh pendidikan agama, ilmu politik pemerintahan juga ilmu perang di lingkungan istana Makassar. Dimana saat itu orang tuanya “berhijrah” sementara ke Makassar dari konflik yang terjadi di Kerajaan Bima.   Ia dilantik menjadi “Jena Teke” (putra mahkota) oleh Majelis Hadat sebelum ayahnya mangkat pada 8 Ramadan 1050 H (22 Desember 1640 M). Menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne” saudari dari Su...

[SEJARAH SEDANG BERGERAK]

Hari ini, Rabu 27 November 2024 sejarah sedang bergerak. Ada 545 kepemimpinan daerah provinsi maupun kabupaten/kota yang sedang menentukan nasibnya untuk 5 tahun kedepan, 2024-2029. Ini pillkada serentak terbesar yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia dengan melibatkan seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Ada 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota. Ada pengecualian untuk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan UU nomor 13 tahun 2021 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilakukan penetapan bukan pemilihan. Begitu pula kabupaten/kota di DKI Jakarta sesuai dengan UU nomor 29 tahun 2007 tentang pemerintahan provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan penetapan.  Hampir semua daerah terlibat dengan hiruk-pikuk pilkada. Apalagi tensi kian meningkat sejak masa kampanye dia bulan terakhir. Dan kian memuncak sepekan masa kampanye pamungkas dengan kampanye akbar yang melibatkan massa yang banyak....

[PARA SAHABAT MENYIAPKAN DIRI 6 BULAN SEBELUM RAMADAN] 90 Hari Menuju Ramadan

  Ramadan sebagai bulan mulia dan bertabur kemuliaan dengan pahala yang dilipatgandakan, tentu menjadi peluang bagi siapa saja untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Begitu pula dengan para sahabat ra. Mereka menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk bertemu dengan Ramadan. Bahkan saking ngebet berjumpa Ramadan dan mau gas poll beribadah juga beramal di dalamnya mereka sebagaimana disebutkan oleh ulama tabi’ tabiin Mu’alla bin Al-Fadhl telah rajin berdoa enam bulan sebelumnya. Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Kitab Lathaif Al-Ma’arif   menyebutkan satu riwayat yang menunjukan semangat menyambut Ramadan tersebut. Mua’alla bin Al-Fadhl mengatakan, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” Dalam kitab yang sama Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantu...