Langsung ke konten utama

009 [BERSYUKUR DENGAN BUKU]

 


Kemarin senja kurir yang ditunggu tiba. Ia mengantar paket berisi dua buku, “Melodi Dari Rintik Gerimis” dan “Cloudburst”. Bahagia rasanya bersua dengan tulisan bulan Juni dan Desember tahun 2023 dalam rupa yang berbeda. Mereka rapih dan kece bersama tulisan teman-teman lain dalam bentuk buku. Wah lama sekali bang?. Kedua buku tersebut sebenarnya telah terbit Agustus 2023 dan Februari 2024 silam. Cuma karena saya lupa memesannya, baru sekarang bertemu dan dapat bonus kalender 2025 lagi.

Menulis dan buku bagi saya sebagai salah satu cara bersyukur pada-Nya. Kemampuan membaca dan menulis telah diberikan-Nya sejak SD. Fasilitas penunjang dari laptop, HP, paket data, sinyal internet  dan buku bacaan nikmat yang terus berulang dari-Nya. Panca indera dan organ tubuh dari mata, otak, jemari, dan sebagainya masih berfungsi sempurna, walau tak tiap hari berdo’a agar itu selalu terpenuhi.  

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl:18)

Walau sudah ditegaskan oleh-Nya bahwa nikmat yang saya dapat tak akan mampu dihitung, bukan berarti saya cuek dan sengaja tidak menyadarinya. Saya coba bersyukur dengan jalan menulis dan membukukan tulisan. Menulis menggunakan nikmat dari-Nya, men-tadabburi ciptaan-Nya yang mampu ditangkap, membagi perasaan bersyukur dengan tulisan di media sosial dan buku.

Alhamdulillah beberapa buku awal saya, karya sendiri (buku solo). Beberapa tahun terakhir saya ikut antologi menulis bareng alias keroyokan satu buku. Wah turun level dong bang?, tidak. Mungkin bagi sebagian itu akan menurunkan bobot point kepangkatan dan merusak algoritma pencitraan. Saya malahan kian bersyukur dengan rame-rame makin banyak berkenalan dan mendapat teman baru yang menikmati jalan yang sama.

Ada energi saling memotivasi dan belajar bersama, ekosistemnya mendukung sekali. Diantara mereka banyak yang pemula bahkan belum pernah menerbitkan karya, spirit mereka justru menyemangati lagi untuk saya terus bersyukur dengan  tak berhenti menulis dan melahirkan karya.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Lukman:27)

Setiap orang punya cara dan gaya bersyukur masing-masing. Setiap kali menulis, saya jadikan salah satu cara bersyukur pada-Nya dari segala nikmat yang tak terkira. Jangan lupa bersyukur dengan cara Anda masing-masing ya.

Rumah Merpati 22, 09012025. 06:24

#MariBerbagiMakna #30HariBercerita #30HBC2509 #reHATIwan #reHATIwanInspiring #InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi @30haribercerita @rehatiwan @inspirasiwajahnegeri @rehatiwaninspiring

www.rehatiwan.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[SALAM PAGI 201: MEKARLAH DI PAGI HARI]

  Assalamu'alaikum Pagi Pagi ini tengok taman di halaman rumah, lihat pucuk-pucuk pepohonan di sekitar, bunga-bunga pada pot-pot kecil di sudut ruang. Resapi aroma wanginya yang merasuk bersama kesegaran udara. Bunganya yang bermekaran, menambah hangat semesta bersama cahaya mentari. Kita tidak salah lihat dan kebetulan menikmati aroma itu pagi ini saja. Kebanyakan bunga memang bermekaran di pagi hari. Ada jam biologis ( ritme sirkandi ) internal yang teratur sedemikan rupa. Mode sinyal otomatis berdasarkan siklusus terang-gelap yang memacu waktu terbaik untuk membuka kelopak dan menutupnya usai menebar aroma. Itu juga terjadi pada manusia, hingga ada waktu terjaga bila tidur dengan durasi waktu tertentu. Bila lekas tidur, cepat pula terbangun. Jika bergadang kelewatan, akan sering bangun kesiangan. Pagi hari sinar matahari menjadikan perubahan suhu memicu sel-sel motorik di pangkal kelopak bunga meregang dan membuka. Rangsangan cahaya dan suhu ini yang secara ilmiah dike...

027 [HR.RASUNA SAID TUTUP USIA]

Namanya terkenal dengan salah satu ruas jalan di Ibu Kota Jakarta, Jalan HR. Rasuna Said. Jujur dari awal saya kira sosok ini pejuang laki-laki. Ternyata setelah membaca lengkap namanya Hajjah Rangkayo Rasuna Said baru terkuak ia seorang wanita pejuang.  Lahir pada tanggal 14 September 1910 di Maninjau Sumatera Barat. Darah pejuang Dan aktivisnya mengalir sang ayah yang merupakan seorang saudagar dan aktivis Minang, Haji Muhammad Said. Pendidikan dasarnya di Pondok Pesantren Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.  Terkenal dengan tulisan-tulisannya yang sangat tajam. Termasuk saat di penjara Belanda masih sempat menyelundupkan tulisan-tulisannya untuk diterbitkan pada surat kabar. Pidatonya sangat fasih dan membakar semangat perlawan pada Belanda. Pidatonya berjudul "Langkah-langkah memerdekakan Indonesia" pada tahun 1932 dianggap radikal oleh penjajah.  Kutipan dahsyat dari salah satu surat Rasuna Said, "Perjuangan kita adalah perjuangan suci di sisi Alla...

[PERCIKAN SAFARI LITERASI]

Dr. Aidh Al-Qarni menulis, "Membaca buku: Nasehat yang membuahkan tangis, kelembutan yang melegakan, keunikan yang mengandung tawa, kelangkaan yang menajubkan, perkara nan indah, larangan yang menakutkan, ungkapan menawan, pembicaraan yang fasih." Kemudian beliau melanjutkan, "Dengannya didapatkan Basil pikiran brilian, inti dari berita-berita, saringan dari zaman-zaman, ilmu dari krisis-krisis, peristiwa berbagai negeri, siasat para raja, pandangan para ulama, keindahan syair para penyair, pilihan kata para bijak, kedalaman pikiran para filosof, kesucian para ahli hadits, ekstasisme para zahid dan linangan air mata para ahli ibadah." "Menurut saya kita harus bangga menjadi orang Bima karena di alam inilah kita bisa mengelaborasi pikiran-pikiran dan berkontempelasi. (H. Muhammad Lutfi, SE Walikota Bima ) Di tanah ini, ada lebih dari 100 cerita rakyat, Baru 30 porsen kisah kisah itu ditulis dan dibukukan. Maka perlu upaya serius untuk men...