Saya sebagai seorang muslim sadar
bahwa ayat pertama yang sampai pada Nabi Muhammad saw, sebagai wahyu Ilahi
adalah “Iqro” (bacalah).
Sebuah perintah langsung dari
Allah swt Sang Pencipta. Sebuah kata yang membangkitkan manusia untuk tidak buta.
Buta huruf hingga tak bisa membaca, buta ilmu pengetahuan hingga mudah tertipu,
buta akan siapa Tuhannya hingga tersesat.
Mambaca itu seruan untuk
meninggalkan kebodohan, mendekap ilmu pengetahuan, memburu hikmah yang
bertebaran, peka pada yang terbentang dalam semesta, baik tersirat maupun
tersurat.
Membaca itu menarik diri menuju
kemuliaan, berjalan kepada pencerahan dan melangkah mendekati cahaya yang
menerangi rute melewati persinggahan di dunia.
Membaca itu membuat manusia kian
mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa diciptakan dan kemana
tujuan hidupnya.
Membaca itu kata kerja. Bukan
menunggu diberi, dikasihani dengan subsidi atau ditalangi dengan kompensasi. Ia
gerak yang menggerakan. Perintah yang sangat revolusioner.
“Apabila rasa kantuk mulai
menyerang kedua mataku, bukan pada waktunya, maka aku segera membaca buku
mutiara hikmah. Kemudian spirit membacaku pun kembali tergugah. Aku menemukan
kembali kelapangan hati saat harus memenuhi kebutuhan. Sedang kesenangan dan
kemuliaan yang memenuhi hatiku lebih cepat membuatku bangun daripada ringkikan
keledai atau gemuruh reruntuhan.” (Ibnu Jahm)
Membaca. Ia tergantung perasaan
kita terhadap aktivitas satu ini. Kian candu akan membawa diri menuju
kemuliaan. Kian jauh berjarak akan menghempaskan diri menuju kegelapan.
Rumah
Merpati 22, 03012025. 11:24
#MariBerbagiMakna
#30HariBercerita #30HBC2503 #reHATIwan #reHATIwanInspiring
#InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi
@30haribercerita
@rehatiwan @inspirasiwajahnegeri @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar