Saya merasakan gejala aneh itu sebenarnya sejak SMP.
Dan dua belas tahun silam kok gejala itu kian sering datang. Tak tentu waktu,
tempat maupun kondisi. Bila waktu datang saat kondisi tubuh lemah, dilain
kesempatan mendadak menyerang padahal badan fit dan kondisi bahagia. Durasinya
kadang singkat, tak jarang juga lama. Sudah banyak orang tempat berkonsultasi,
hanya kalimat standar dan klise menjadi resepnya. Sabar, nanti akan reda
bertahap.
Saya
mencoba menjalani terapi sendiri kala gejala mulai terasa. Dari menyeruput kopi
pahit, membaca buku-buku terkait, jalan-jalan hingga mendengar cerita dari
banyak orang. Termasuk media sosial tentunya.
Hingga
sepuluh tahun silam, tepatnya 24-25 Juni 2015 saya berjumpa seorang perempuan
paruh baya. Sejak lahir ia menderita penyakit kronis Thalasemia. Penyakit
kelainan darah karena kurangnya hemoglobin (Hb) yang normal pada sel darah
merah menyebabkan penderita mengalami anemia atau kekurangan darah. Untuk
bertahan hidup ia harus di transfusi darah sejak tahun 1969 setiap bulannya
hingga sekarang.
Ada
gejala yang sama persis dengan ia tuturkan di depan orang yang hadir di Aula
Kantor Bupati Lombok Barat saat itu. Saya berharap ia memberikan banyak solusi,
minimal obat apa sebagai ‘pelarian’ dari virus tersebut. Namun, ia tanpa ragu
menyebarkan virusnya, hingga antibodi saya melemah dan harus menerima virus
dengan spesifikasi yang lebih tinggi.
“Saya ingin
banyak generasi muda, terutama kaum perempuan yang menjadi penulis. Saya tak
pernah takut menularkan virus menulis ini, khawatir diambil jatah rezeki saya
umpamanya, tidak! Allah sudah mengatur semuanya untuk kita. Maka, berbagilah
dengan siapa pun.”, begitu pesan perempuan dengan jilbab favorit unggu bernama
Etty Hadiwati Arief dengan nama pena Pipiet Senja itu.
Rumah Merpati 22, 05012025. 04:24
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar