Langsung ke konten utama

[SETIAP HARI ADALAH HARI LINGKUNGAN HIDUP]

 


Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Senin (3/8). Demikian kutipan berita dilaman Lombok Post 4 Agustus 2020, tiga tahun silam. https://lombokpost.jawapos.com/.../gawat-300-mata-air-di.../

Sekarang bagaimana kondisinya? Saya berkeyakinan belum banyak ada perubahan. Bahkan makin berkurang. Hal tersebut bahkan kerusakan lingkungan lainnya bukan hanya menjadi kegelisahan hari beberapa waktu ini saja. Jauh sebelum itu, bahkan Allah swt telah mengingatkan dalam firman-Nya, : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. Ar-rum: 41-42)

Tanpa bermaksud menakut-nakuti tapi ini memang fakta yang sebenar berseliweran setiap hari diberanda kita. Satu per tiga dari kawasan di bumi kini rentan terhadap kerusakan lingkungan. Hanya 9 persen dari plastik yang dapat di daur ulang. Kabarnya juga total 90 spesies katak telah punah karena perubahan iklim yang tidak merata dan memaksa 124 spesies lainnya untuk menurun lebih dari 90 persen.

Lingkungan sebenarnya telah seimbang dengan sendirinya, tapi keserakahan manusia yang meraup secara rakus melebihi kebutuhannya menjadikan semua berbuah bencana yang kembali bagi manusia tanpa terkecuali.

Melalui resolusinya nomor 2994 pada tanggal 15 Desember 1972 Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa pertama kali mencetuskan Hari Lingkungan Hidup sedunia.

05062023, 18:13

#MariBerbagiMakna #reHATIwan #InspirasiWajahNegeri #IWANwahyudi #Gerimis30Hari #gerimis_juni23_05
@inspirasiwajahnegeri
@rehatiwan
@iwanwahyudi1
@gerimis30hari
@ellunarpublish_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...