Langsung ke konten utama

[CATATAN PERJALANAN]

Saat selesai menuliskan sebuah catatan perjalanan, plong rasanya. Karena kita dapat berbagi rasa, emosi, inspirasi dan hikmah pada siapapun yang tak terlibat sekalipun dalam perjalanan itu. Ya, memang tidak semua perjalanan yang dilalui menarik untuk dituturkan kembali karena terlalu datar kisahnya, tak epik alurnya atau hambar akan rasa dan emosi.

Saya memandang itu sebagai virus yang mematikan insting dan imajinasi menulis. Membunuh sebelum lahir, memangkas sebelum tumbuh, memusnahkan sebelum bernafas. Apakah ada yang lebih bahaya dari itu bagi seorang yang mulai belajar menggerakkan ujung penanya?

Saya belajar hal itu dari Junior saya @soni_ariawan . Setiap jejak peran dan penggalan perjalanan hidupnya ditandai dengan karya literasi. Cukup sederhana menulis apa yang dirasa, dilihat dan dilakukan, tak serumit kisah fiksi yang harus memeras imajinasi dengan alur yang tidak sederhana, tentu tak semua orang bisa. Salah satunya "Inspirasi Negeri Koala" catatan dua tahun perjalanannya menuntut ilmu di Australia.

Banyak orang yang lebih hebat kisahnya, paling heroik perjuangannya, paling luar biasa pengorbanannya, paling romantis alur cintanya. Namun, ia akan menjadi angin lalu jika sekedar menjadi buah bibir dan tutur semata TANPA menjadikannya Catatan Perjalanan. 

"Setiap kita memiliki jejak, langkah dan kisah, catat dan tulislah agar inspirasinya dapat dibagi pada sesama"  (Iwan Wahyudi)

29102018 22:16 KMP Citra Mandala Abadi
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#InspirasiWajahNegeri 
www.iwan-wahyudi.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

Salam Pagi 127

  Assalamu’alaikum Pagi “ Setiap perilaku akan kembali pada pelakunya, baik itu penghinaan, keburukan apalagi kebaikan . Jangan lelah berbuat kebaikan walau belum terasa efeknya seketika itu pula.” Seberapa keji penghinaan yang pernah engkau terima? Mungkin tak sebanding dengan yang telah dirasakan   oleh pendahulumu dijalan kebaikan yang sama-sama engkau tebar dan lanjutkan saat ini. Seberapa nista keburukan yang engkau terima hari ini? Mungkin tak seberapa dibanding mereka yang telah berkorban menyerukan kebaikan, hingga kini engkau dan semua orang merasakan indahnya. Seberapa sering dan besar kebaikan yang engkau telah lakukan? Tak perlu menghitung, membandingkan atau mengingatnya. Karena cepat atau lambat akan kembali padamu. Jika menghitungnya engkau akan merasa besar, bila membandingkan engkau bisa sombong dan saat selalu mengingatnya bisa saja keikhlasanmu tergerus. Tetaplah disini bersama kebaikan dan orang-orang baik. Tetaplah menanam dan memeliharanya agar ...