Langsung ke konten utama

[SENYUM, BAHASA JIWA YANG SEDERHANA]


Senyum anugerah khusus untuk manusia dari makhluk lainnya. Hal sederhana yang memunculkan makna bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia cerminan hati dan bahasa jiwa yang berlaku bagi semua manusia, lintas suku, perbedaan bahasa apalagi sekedar warna kulit.

Ia tak hanya sekedar bibir yang ditarik sesaat semata. Senyum tulus yang seimbang dengan pancaran mata. Bisa saja bibir nampak tersenyum, tapi mata memancarkan kesedihan, amarah dan dendam.

Ada senyum yang menimbulkan mabuk kepayang bagi orang lain hingga terseret pada kehinaan dan maksiat, inilah senyuman para penggoda. Ada senyum kecut, asam, pahit dan sinis yang bermakna penghinaan, ejekan dan sejenisnya.

Namun senyum terbaik cukup sederhana dan mewakili jiwa. Yang dapat mengokohkan saat dilanda berbagai ujian, membangkitkan energi kala lemah mendera, membagi ringan masalah, dan memperkuat ketabahan. Inilah senyum yang tak dapat diwakili dan dilakukan oleh mereka yang sombong, penuh ambisi dan angkuh. Tapi benar-benar senyum yang bernilai shadaqah seperti di gambarkan oleh Rasulullah Saw.

Teruslah tersenyum bersama hati dalam kesederhanaan jiwa kita.

24092019 21:04
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna 
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan 
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

076 [SULTAN ABDUL KHAIR SIRAJUDDIN LAHIR]

  Sultan Ab dul Khair Sirajuddin bergelar Ruma Ta Mantau Uma Jati lahir dilingkungan istana Kesultanan Makassar pada bulan Ramadan 1038 H ( ± April 1627 M). Disamping itu beliau diberi gelar “La Mbila”. Para prajurit Gowa memanggilnya “I Ambela”.   Beliau adalah Sultan ke II Kesultanan Bima. Putra dari Sultan Abdul Kahir I dengan permainsurinya Daeng Sikontu, adik permainsuri Sultan Alauddin Makassar.   Dalam kitab Bo (naskah lama Bima) namanya “Abil Khair Sirajuddin”, tapi pada bagian lain sumber yang sama ditulis “Abdul Kahir Sirajuddin”. Sejak usia kecil ia memperoleh pendidikan agama, ilmu politik pemerintahan juga ilmu perang di lingkungan istana Makassar. Dimana saat itu orang tuanya “berhijrah” sementara ke Makassar dari konflik yang terjadi di Kerajaan Bima.   Ia dilantik menjadi “Jena Teke” (putra mahkota) oleh Majelis Hadat sebelum ayahnya mangkat pada 8 Ramadan 1050 H (22 Desember 1640 M). Menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne” saudari dari Su...

[Kebaikan Kadang Perlu Dipaksakan] #CatatanSyawal 05

  Sudah lama tidak menulis artikel yang agak panjang. Maksud saya dengan panjang 8-10 paragraf. Biasanya 4-5 paragraf ala status Facebook dan media sosial lainnya. Ramadan kemarin coba menantang diri sendiri agar rutin menulis artikel panjang sebulan penuh. Dengan peningkatan volume dan frekuensi ibadah selama Ramadan, saya juga sadar waktu akan menjadi kendala dan alasan yang melemahkan diri. Dan ini selalu berulang dan celah kegagalan. Saya mengajak Kang Syamsudin Kadir agar niatan baik itu terlaksana di website Penerbit Panggita www.panggitapublishing.com. Setidaknya saat saya bolong tidak menulis, goresan beliau menambalnya. Bila beliau kosong, saya wajib mengisi. Alhamdulillah jika kami berdua sama-sama menulis lebih dari satu artikel tiap hari. Gayung bersambut. Sempat datang kekhawatiran, bagaimana bila suatu hari kami berdua sama-sama kosong menulis? Saya coba mengajak seorang sohib lama semasa aktivis mahasiswa dulu, Ustadz Junaidi Ana . Tema seputar Ramadan yang begi...

[ES KELAPA MUDA] #KulinerRamadan 03

  “Es kelapa muda, minuman asli Indonesia. Paling segar menemani segala jenis makanan. Apalagi saat berbuka puasa, menjadi pilihan utama.”   Siapa yang tidak pernah menikmati minimal menyicip es kelapa muda sepertinya rugi hidup di Indonesia. Indonesia sebagai negara kepulauan, pastinya di pantainya yang begitu panjang banyak tumbuh pohon kelapa. Dan Es Kelapa yang kita bahas kali ini benar-benar minuman asli Indonesia.   Es kelapa muda biasa juga disebut es degan dalam lidah Inggris namanya “ young coconut ice ”. Es yang sangat segar dan bikin jiwa sejuk buat minuman berbuka puasa ini pertama kali saya minum saat kecil di Jakarta. Dan memang cuma disajikan di rumah saat Ramadan aja. Bapak membelinya dalam bentuk utuh kelapa muda. Proses penyajiannya dari membeli di pedagang kaki lima pinggir jalan, mengupas serabutnya, membelah dan mengeluarkan air kelapa sampai mengerok daging buahnya terekam kuat dalam memori saya.   Minuman ini pernah dinobat ke dalam 50 minuman ...