Langsung ke konten utama

[SELAMAT JALAN PAK PARWOTO]

Kamis pagi (1/10/2020) group WA alumni SMP angkatan terposting informasi Pak Parwoto guru Fisika saat SMP di SLTPN 1 Belo (sekarang SMPN 1 Palibelo) Teke wafat.

Saya teringat saat akhir Ramadhan tiga tahun lalu, tepatnya 24 Juni 2017. Angkatan kami melalui bingkisan lebaran untuk guru mengunjungi beliau di kediamannya di Desa Teke Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima.

Beliau guru fisika Kami saat kelas 3, dan saat kelas itu pula pertama kali kami praktikum fisika di sebuah bangunan laboratorium di bagian barat sekolah. Laboratorium sebaguna menurut saya karena disitu juga laboratorium biologi. Masih ingat betul boxtoll praktikum yang harus dipakai bergantian.

Selain sebagai guru beliau juga sambilan menjadi enterpreneur bahasa sekarang. Usaha bakso di gang depan sekolah cukup terkenal, walau rasanya sederhana sekali. Namanya dikampung tetap enak.

Putri beliau Dwi Sugiarti ( Bu Titin) satu angkatan dengan saya, satu kelas saat kelas 3. Kini melanjutkan pengabdian sang bapak di SMP tercinta.

Tetiba banyangan dan suara khas medok Jawa beliau mengajar didepan kelas memutar ulang di memori kepala yang telah tersimpan lama sekali. 

Selamat jalan guru fisika, kami murid-muridmu kanvas yang telah terlukis oleh ilmu yang pernah engkau turunkan.

Innalillahi Wainnailahi Rojiun.
Semoga Almarhum Husnul khotimah 

01102020
#IWANWahyudi 
#MariBerbagiMakna 
#InspirasiWajahNegeri 
@iwanwahyudi1 
@inspirasiwajahnegeri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...