Langsung ke konten utama

[AWALI DENGAN DAMAI]

Kedamaian itu berawal dari sesuatu yang membuat diri nyaman dan jiwa tenang. Berupayalah untuk meraihnya dan teruslah berdo'a agar di anugerahkan oleh-Nya.

Ketika bangun tidur diantara kantuk yang masih menggoda dan waktu shalat subuh telah tiba, kita langsung membasuh wajah dalam rangkaian berwudhu. Bukan sekedar membasahi tapi juga mensucikan diri. Akan berbeda dengan sekedar cuci muka biasa. Kemudian kita mulai beraktifitas dengan tenang.

Saat terik matahari dan suasana siang yang mulai dipenuhi penat, kantuk datang ditambah kondisi perut yang kenyang usai makan siang. Kita kemudian membasuh muka diantara basuhan lain rukun wudhu. Air tak hanya membasahi permukaan kulit namun menyentuh pori-pori hingga menyegarkan, ditambah usai menunaikan shalat akan semakin menyejukkan. Kemudian kita melanjutkan pekerjaan dengan semangat kembali.

Sesuatu yang dimulai dengan emosi, melangkah diawali dengan amarah, dan bekerja didahului dengan hati yang kering pasti akan berakibat pada hari yang kita lalui tak terasa nikmat. Gersang dan kian siang hingga petang akan dipenuhi dengan kegalauan yang berujung dengan kesia-siaan bahkan kehancuran.

Awali semua dengan niat yang baik, pikiran positif, hati yang tenang dan jiwa yang damai. Jika ditengah jalan ada riak-riak yang memicu emosi menepi sejenak, basuh dengan air wudhu agar debu-debu dengki dan nafsu dunia itu kembali ke bumi dan tidak menggerogoti kedamaian dalam diri.

22092020
#IWANWahyudi 
#MariBebagiMakna #reHATIwan 
#InspirasiWajahNegeri 
@iwanwahyudi1 
@inspirasiwajahnegeri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...