Langsung ke konten utama

[TONGGAK-TONGGAK KESAKRALAN RAMADHAN]

" Dalam bulan Ramadhan bertemu dua kesakralan, kesakralan Waktu dan Kesakralan Ibadah (Perbuatan). Saat bobot kesakralan itu besar, berat dan mulia, tentu kita harus menyiapkan diri dengan tidak biasa-biasa saja agar benar-benar menyelami, menyatu dan memperpanjang efeknya hingga 11 bulan kemudian".

"Ramadhankan masih 20an hari lagi bang, apa g terlalu cepat nulis tentang Ramadhan?". Ada do'a yang senantiasa diingatkan oleh banyak kalangan untuk menyambut Ramadhan. “Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”
Yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.” Hal ini makin mempertegas sebenarnya sejak bulan Rajab, dua bulan sebelum Ramadhan kita harus mempersiapkan diri.

Kesakralan  perbuatan atau amal dapat ditemukan pada ajaran ibadah dalam Islam. Dalam tiap ibadah memiliki banyak syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkannya. Dan tak lupa dalam tiap ibadah memiliki kemuliaan, keistimewaan dan kelebihan dibandingkan ibadah lainnya.

Kesakralan waktu berupa adanya waktu-waktu utama yang memiliki nilai sangat sakral, mulia, terhormat, dan memiliki kelebihan dibandingkan waktu lainnya. Dalam Islam hal tersebut dapat kita temukan misalnya pada bulan suci Ramadhan, pada hari Jum'at, pada sepertiga akhir malam, pada waktu subuh dan sebagainya. Pada waktu ini Allah memberikan bobot yang lebih dibandingkan waktu biasa. Memberikan balasan spesial , istimewa dan berlipat ganda pada siapa yang mengerjakan perbuatan baik dari waktu-waktu biasanya. Kesakralan waktu ibarat stasiun-stasiun pengisi energi jiwa, penguat semangat, penambah bekal dan kekuatan sebelum melanjutkan perjalanan . Stasiun ini juga tempat menambal amal-amal yang berlubang diwaktu yang sudah lewat serta melakukan akselerasi amal.

Puncak kesakralan itu saat bertemunya kesakralan waktu dan perbuatan, yaitu bulan Ramadhan. Rasulullah mengisi kesakralan Ramadhan dengan Ibadah yang tak dilakukan atau memperlipat gandakan jumlah ibadah diluar Ramadhan. Rasulullah Orang paling dermawan dan paling dermawan lagi saat Ramadhan, dibulan Ramadhan ia mengulang Al-Qur'an dengan Jibril dua kali, melakukan puasa wajib sebulan penuh, menambah shalat malam dengan shalat tarawih. Bagi yang melakukan ibadah dengan penuh iman dan penuh pengharapan akan diampuni dosanya yang lampau.

Abdullah bin Umar, ia senantiasa berbuka puasa bersama orang-orang miskin dan anak-anak  yatim. Orang-orang dari Bani 'Adi bila datang Ramadhan, mereka tidak berbuka sendirian. Bila ada orang lain diajaknya makan, bila tidak ada, mereka bawa makanan ke Masjid dan makan bersama disana.

Jiwa manusia secara naluriah memerlukan tambatan kesakralan. Memerlukan sesuatu yang diagungkan, yang ia puji, yang ia hormati. Jiwa yang tak mendapat bimbingan Wahyu Allah akan mencari pelarian-pelarian kesakralan dengan bermacam-macam cara, dan kebanyakan menyimpang.

Tonggak-tonggak kesakralan Ramadhan ini akan berhasil direngkuh saat kita menyadari betapa berharganya waktu. Menyiapkan dengan matang jauh-jauh hari, mengisi waktu tersebut secara penuh tanpa ada celah ruang kosong. Karena Ramadhan sebentar lagi dan ia akan terasa singkat dan cepat berlalu. Tapi kita masih seperti ini saja.

15042019 07:47
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#CatatanLangkah
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
www.iwan-wahyudi.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

  Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan. Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu. Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan. Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya...