Langsung ke konten utama

[SUARA]

Suara itu lahir dari ungkapan yang dibunyikan dari dorongan hati dan pikiran setiap orang. Suara mewakili apa yang dirasa, dipesankan dan diharapkan oleh seseorang.

Suara bisa jadi sebuah akumulasi gelisah atas perbedaan antara janji dengan realisasi, harapan dan kenyataan. Ia ibarat pisau yang dapat menikam kembali sang pemilik lidah jika tak sesuai perkataan dan perbuatan. Betapa banyak pemimpin dunia terjungkal dari kemuliaan, jatuh dari singgasananya akibat salah bersuara dan memahami suara yang diwakilinya.

Betapa mulia dan berharga tingginya suara hingga pemimpin dari presiden hingga kepala desa dan dusun harus mendapatkan mandat suara rakyat agar bisa berkuasa dan memimpin. Bahkan adigum terkenal dalam bahasa latin yang cukup terkenal dan sering dikutip menempatkan suara rakyat adalah suara Tuhan, "Vox Populi, Vox Dei"

Namun pada praktek keseharian suara rakyat ini begitu mudah dilecehkan. Contoh dalam konteks pemilu atau pilkada politik uang hanya menghargainya Rp.50.000,- setara dengan satu kotak mie instan bahkan lebih rendah lagi, karena kemiskinan dan pengangguran membuat "nilai kurs" rakyat jatuh ke titik nadir.

Suara pemilih hanya diperhatikan dan berakhir pada hari pencoblosan, sedang bagi para politisi dan elit, pencari kekuasaan pemilu baru dimulai saat perhitungan suara. Itupun masih harus termanipulasi oleh ulah oknum penyelenggara pemilu. Pemilih mayoritas tak mengerti konversi suara ke jumlah kursi, apalagi konversi setelah elit memenangkan kontestasi ke hak aspirasi yang harus diteruskan dan diwujudkan para legislator, senator dan penguasa.

Agar suara rakyat punya energi dan power juga arti yang konkret, rakyat harus berani menghukum (punishment) kepada calon penguasa yang dianggap gagal, memiliki nilai merah, prestasi rekor hitam atau tidak layak memerintah. Suara protes (protestan vote) itulah yang seharusnya mewarnai hasil pemilu dan pilkada, ketika rakyat menghukum partai dan politisi yang korup serta gagal memperjuangkan aspirasi rakyat.

17042019 10:21
#IWANwahyudi 
#MariBerbagiMakna 
#CatatanLangkah 
#MariBerbagiMakna  #reHATIwan 
www.iwan-wahyudi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

  Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan. Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu. Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan. Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya...