Langsung ke konten utama

MENGEJAR SORE HINGGA SENJA, Hari Pertama 8 April 2015 Etape Menuju Batas Timur Lombok

Setelah melewati batas kota Mataram kecepatan motor rombongan mulai melaju dengan kencang, ngejoos karena perjalanan sesungguhnya baru dimulai menuju etape batas timur pulau Lombok. Formasi mulai tidak beraturan karena sebagian besar rombongan terputus dengan banyaknya truk dan bis Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang sama-sama berebut jalan di ruas yang sama. Wajar saja karena jalur yang kami lalui adalah jalan nasional, jalan utama satu-satunya kendaraan menelusuri pulau Lombok dari arah Jawa menuju Sumbawa.

Disisi lain rombongan juga lumayan banyak dengan belasan kendaraan sepeda motor ada yang berboncengan maupun mengendara single. Ritme tim juga belum terbentuk utuh karena hanya sedikit arahan perjalanan ketika pembukaan di halaman dinas pariwisata NTB tadi, disisi lain sebagian besar baru saling bertemu untuk pertama kalinya. Setidaknya untuk mengetahui kami ini adalah rombongan selain adanya kaos seragam tambora menyapa dunia yang dibagikan oleh dinas yaitu adanya dua kendaraan yang menjadi ujung dan ekor rombongan ini : satu motor paling depan yang memang ditugaskan untuk mengomandoi rombongan dan tidak ada satupun motor rombongan yang boleh mendahuluinya dan satu motor lagi yang berada paling belakang rombongan sebagai penyisir/penyapu dengan tugas tidak boleh sekalipun mendahului motor rombongan lain, jika terjadi satu dan lain hal pada motor rombongan yang tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya Tim ini yang harus mendampingi dan memberi info pada motor komando untuk memperlambat atau menghentikan laju rombongan.

Selain banyak kendaraan besar dan soliditas rombongan yang belum utuh terbentuk, lampu lalu litas juga menjadi factor pemecah yang memutuskan  barisan rombongan touring kami. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama Touring dengan jumlah motor belasan. Saya menggunakan motor milik bro Azis Satria Putra. Beliau sendiri dari mataram sampai Sumbawa menggunakan Travel karena ada beberapa temannya yang harus singgah disumbawa mengambil motor juga ada yang mau bergabung dari Sumbawa untuk sebuah moment yang hanya bisa diulang dalam durasi waktu cukup panjang 1 abad, menaklukan puncak tertinggi di pulau Sumbawa Gunung Tambora.
Sampai di Daerah Mantang Lombok Tengah walau langit cukup cerah dan matahari memperlihatkan teriknya tiba-tiba hujan lebat mengguyur. Alhamdulillah rombongan saat itu baru mencapai perempatan Mantang dan bisa menepi di Masjid Al-Huda Matang. Semua peserta beristirahat  untuk menunggu hujan reda. 
Sebagaian yang belum menjama’ qashar Shalat tadi saat dzuhur kini menunaikan shalat Ashar. Ada juga yang mengeluarkan bekal makanan ringan yang bisa dicicipi bersama sambil ngobrol menghangatkan suasanan dan membangun keakraban. Tak lupa kami menyapa beberapa jama’ah shalat yang masih duduk ngobrol di pelataram masjid sambil menunggu hujan reda seperti yang kami lakukan. Hujan bertanda Rahmat dari-Nya, semoga perjalanan ini juga penuh dengan keselamatan dan keberkahan-Nya. Ya beberapa bait do’a untuk kelancaran perjalanan kami lantunkan ditempat mulia yang ada di muka bumi, saat selesai shalat dan saat hujan membasahi bumi. Tiga suasana sekaligus yang disebagian dalil mengungkapkan saat dimana pinta di ijabah oleh Sang Khalik.

Setelah hujan reda rombongan Touring kembali melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Kayangan Lombok Timur. Kali ini rombongan sudah mulai sedikit lebih tertib artinya sudah tidak terpisah jauh satu sama lain antara motor kami. Dengan sedikit arahan sebelum memulai perjalanan dengan pembagian tugas sederhana. Saya dan Bang Alex Afzal mendapat posisi paling belakang sebagai tim penyapu rombongan.

Sekitar pukul lima sore kurang, rombongan sampai dipintu gerbang pelabuhan Kayangan. Sambil menunggu beberapa motor yang masih diperjalanan sebagian rehat sambil memesan kopi di warung yang memang berjejer dikawasan pelabuhan tersebut. Sebagian sudah mulai urunan mengumpulkan uang untuk membeli nasi bungkus untuk disantap diatas kapal Ferry nantinya. Pengumpulan uang nasi ini tanpa ada komando dikoordinir oleh Emen, anak asli Labuan Kananga Kecamatan Tambora yang langsung datang mengendarai motor dari Bali tadi malam untuk bela-belain ikut touring ini.
Awalnya konon penyeberangan rombongan ini akan digratiskan, dibiayai langsung oleh Dinas Pariwisata NTB sebagai rangkaian acara Tambora Menyapa Dunia. Karena pihak dinas tidak bisa terhubung untuk mengkonfirmasi dengan pihak penjaga loket tiket akhirnya pembiayaan diambil alih oleh Rangga Babuju sebagai coordinator Touring bertajuk Anak Tambora Pulang Kampung ini. Saat berada di loket pembayaran terlihat bro Azis Satria Putra melambai tangan dari dalam travel, ternyata keberangkatan beliau tak bertaut jauh dengan kami Cuma beda kapal penyebrangan lebih awal.

Setelah memarkir motor secara teratur di dek kapal ferry kami langsung mencari posisi yang nyaman dan tak terpisah satu sama lain. Penyeberangan jam segini cukup ramai dengan penumpang Bis AKDP dan AKAP yang menuju Bima. Nasi bungkus mulai dibagikan oleh Bro Emen dengan memeluk kardus berisi nasi bungkus layaknya penjual nasi lainnya di dalam kapal. Setelah masing-masing menyantap nasi bungkus, untuk membunuh kejenuhan perjalanan satu jam setengah hingga dua jam menuju pelabuhan Pototano sebagian peserta mulai berinisiatif membuat acara ringan duduk melingkar dilantai kapal untuk sekedar menyeruput kopi, foto-foto selfi, membuka tab/handphone meng-update status sosmed hingga ada yang bermain catur.

Senja hari ini kami tutup diatas lautan selat Alas dengan semilir angin yang membawa aroma khas samudera menerpa wajah dan dingin malam yang mulai menyapa. Sebagian mulai mengenakan jaket masing-masing untuk sekedar menghangatkan tubuh karena perjalanan yang kami tempuh belum sampai setengahnya.

-----Bersambung -----MALAM MENJELANG DINI HARI ( Menembus gelap Tana Samawa)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

  Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan. Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu. Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan. Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya...