Langsung ke konten utama

[MEMBERI TANPA HARUS BERBUNYI DAN MENYAKITI]

Usai tilawah Al Qur’an pagi ini, saya mencoba membaca dan merenungi terjemahan ayat terakhirnya, “ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya’ (pamer) kepada manusia dan dia tidak berima kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu di timpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 264) 

Pada dasarnya kita memberi itu ingin berbagi kebahagiaan. Bahagia bagi pemberi dan perasaan bahagia yang sama saat menerimanya. Bukan semata transfer atau berpindahnya materi atau benda yang diberikan/diterima, tetapi ada getaran dan perasaan yang juga turut mengalir dalam proses tersebut. 

Saat bersedekah dan memberi sebaik-baiknya ialah yang tak harus berbunyi. Bukan karena ingin disebut nama kita sebagai penyumbang atau ada nominal yang diumumkan pada khalayak ramai. Bukankah kita dianjurkan saat tangan kanan memberi, tangan kiri tak harus tau dan mempublikasikannya?. 

Memberi dan bersedekahpun harusnya dengan perasaan bahagia dan tidak ada paksaan. Tak ada yang mengganjal dihati atau udang dibalik batu, maksud tersembunyi yang kemudian akan menyakiti perasaan siapapun yang menerimanya. Bukankah diantara kedua belah pihak harus saling meridhoi, karena Allah memberi sedekah dan karena Allah pula menerimanya. 

Bila kita bersedekah mari kembali meraba hati kita seberapa besar yang terasa oleh perasaan, bukan seberapa besar jumlah nominal atau takaran matematika semata. 

29042020
#EnergiRamadhan
#MariBerbagiMakna
@inspirasiwajahnegeri
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

161 [ASRAMA DAN SEKOLAH KEPEMIMPINAN]

  Sepenuhnya tidak janjian jumpa berempat. Awalnya cuma dengan Sahrel Gunawan @sahrelgunawan_ mahasiswa pasca sarjana UGM yang sedang mudik liburan. Usai Jumatan Sahrel ketemu Rasdan dan Ramadhan. Akhirnya kami duduk satu meja di gerobak mie ayam samping masjid usai Jumatan. Sahrel Gunawan angkatan 2018, Rasdan dan Ramadan angkatan 2021 Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rasdan dan Ramadan lulus September 2025 lalu. Sedang Sahrel jadi mahasiswa UGM dengan beasiswa LPDP mulai semester ganjil tahun lalu. Kami nostalgia kehidupan di Asrama Mahasiswa UTS, setidaknya perubahan sebelum dan pasca covid 19. Asrama tak bisa disamakan dengan asrama santri pondok pesantren yang ketat dengan aturan. Atau sebebas ngekos di rumah susun yang sangat longgar tanpa ada kegiatan bersama yang menyatukan. Asrama hingga menjelang covid diperuntukan untuk anak semester satu. Maunya sih semua semester, tapi fasilitas tidak selengkap UI, IPB atau kampus besar di Jawa. Apalagi UTS swasta. Pokoknya...