Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri”
SEORANG pemuda berusia 19 tahun mengorbankan nyawa satu-satunya dengan aksi yang tak biasa. Dengan kematiannya, nyawa ratusan ribu orang terjaga. Ia melakukan Suicide Mission demi melawan penindasan dan melindungi saudara-saudara sebangsanya dari kekejaman penjajah. Seorang belia yang bernilai lebih dari seribu para super hero dalam cerita komik, bahkan setelah berpuluh-puluh tahun kematiannya. Namanya lebih harum dari taman bunga yang sedang merekah pada musim semi. Ceritanya lebih semerbak dibandingkan aroma minyak wangi ternama.
Muhammad Toha malam itu tanggal 11 Juli 1946, tiga setengah bulan setelah
peristiwa Bandung Lautan Api. Di Dayeuhkolot bersama sahabatnya Mohammad
Ramdhan dari kelompok Hizbullah, menjalankan misi yang sangat sulit,
menghancurkan gudang mesiu penjajah di Selatan Bandung. Hal ini sangat penting
sekali mengingat persenjataan di dalamnya adalah alat-alat perang yang
mendukung penyerangan tentara Sekutu terhadap rakyat dan semua yang
mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia.
Dengan susah payah dalam keadaan luka tembak akhirnya Muhammad Toha
berhasil masuk ke dalam gudang mesiu, mengunci diri, beserta beratus bom,
granat, senjata dan mesiu. Ia tak berpikir panjang dengan usianya yang masih
belia dan memiliki masa depan yang membentang. Ia tak tergoda dengan gelar yang
bisa saja tersemat di depan namanya bila bisa kembali setelah menguasai gudang
persenjataan penjajah. Hatinya tak gentar, tekadnya sudah bulat. Ramdhan di
luar sudah tewas tertembak sebagai pembuka jalan bagi Toha. Tanpa ragu-ragu ia
ledakkan dinamit yang telah ia siapkan sebelumnya. Tubuh Toha ikut meledak
bersama berton-ton mesiu.
Muhammad Toha lahir pada tahun 1927 di sebuah Desa bernama Suniaraja, Kota
Bandung. Terlahir dari rahim seorang ibu bernama Nariah dan ayah bernama
Suganda. Usia dua tahun ia sudah berstatus anak yatim, ayahnya meninggal pada
tahun 1929. Ibu Nariah kemudian menikah dengan adik ayah Toha, Sugandi. Bahtera
baru itu tak berlangsung lama menjadi tempat Toha bernaung. Mereka bercerai dan
Toha napaki hidupnya dalam pelukan kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu
Bapak Jahiri dan Ibu Oneng.
Jalan hidup yang berliku dan kadang berduri tak boleh menjadi titik akhir
untuk melangkah. Hidup boleh keras, tekad harus jauh lebih membaja dari pada
itu. Toha mulai masuk Volk School (Sekolah Rakyat) pada usia 7 tahun
hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah.
Masa penjajahan Jepang mengantarkan Toha belia mengenal dunia militer dengan
memasuki Seinendan. organisasi barisan pemuda (berusia 14 hingga 22
tahun) yang bersifat semi-militer, dibentuk oleh pemerintah pendudukan tentara
Jepang di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1943. Sela-sela itu, Toha sehari-hari
juga membantu kakeknya di Biro Sunda, Toha belajar menjadi montir mobil dan
bekerja di bengkel kendaraan militer Jepang sehingga ia juga mampu bercakap
dalam bahasa Jepang.
Toha dikenal sebagai pemuda yang cerdas, disiplin kuat, patuh pada orang tua
serta disukai oleh teman-temannya. Dengan postur tubuh setinggi 1,65 m, bermuka
lonjong dan mata yang tajam, pada masa Indonesia merdeka ia terpanggil untuk
bergabung dengan badan perjuangan Barisan Rakyat Indonesia (BRI), yang dipimpin
oleh Ben Alamsyah, paman Toha sendiri. BRI selanjutnya digabungkan dengan
Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Anwar Sutan Pamuncak menjadi Barisan Banteng
Republik Indonesia (BBRI).
Pada bekas gudang mesiu yang menjadi target pejuang Bandung Lautan Api yang
diledakan Toha itu kini berdiri monumen Mohammad Toha di ujung jalan kawasan
Dayeuhkolot tepatnya di sebelah markas Zeni Tempur (Zipur) 3/YudhaWyogrha.
Toha mati muda. Usianya boleh sebentar, namun kepahlawanannya tak pernah
hilang dalam cerita perjuangan bangsa. Umurnya boleh sebatas belia, tapi ia
menjadi seorang revolusioner dan pahlawan perang Indonesia, yang dipuja sebagai
martir dan menginspirasi anak-anak negeri bagi zaman berikutnya. Ia memilih
jalan mengorbankan nyawanya demi persada Indonesia untuk mempertahankan
kemerdekaan yang telah diraih dengan proklamasi 17 Agustus 1945. (*)
Cordova Street, 11 Oktober 2026
#Literasi
#reHATIwan #reHATIwanInspiring #MariBerbagiMakna #IWANwahyudi #Pemuda #MudaMenyala #Matahari #Pagi
@penerbitpanggita
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.panggitapublishing.com
www.cvpanggita.com
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar