Langsung ke konten utama

20 Mei 1998 : [14 Menteri Soeharto yang Baru Dilantik 2 Bulan Kompak Mundur]

 


Menteri di lingkungan EKUIN (Ekonomi, Keuangan dan Indutri) dibawah Menko Ekuin Gunanjar Kartasasmita hadir memenuhi panggilan Ginandjar dalam pertemuan di Gedung Bappenas. Hanya ada tiga menteri yang tidak bisa hadir, yakni Menteri Lingkungan Hidup Juwono Sudarsono, Menteri Industri dan Perdagangan Bob Hasan, dan Menteri Keuangan (Menkeu) Fuad Bawazier. Karena ketiadaan Menkeu, Ginandjar mengikutsertakan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin.

Ada empat belas menteri yang dalam pertemuan di Bappenas itu menolak bergabung dengan Kabinet Reformasi bentukan Soeharto. 14 menteri yang hadir sepakat untuk menarik diri dari Kabinet Pembangunan VII. Mereka adalah:

1. Akbar Tandjung (Menteri Negara Perumahan Rakyat)
2. A.M Hendropriyono (Menteri Transmigrasi & Permukiman Perambah Hutan)
3. Giri Suseno Hadihardjono (Menteri Perhubungan)
4. Haryanto Dhanutirto (Menteri Negara Pangan & Holtikultura)
5. Ginandjar Kartasasmita (Menko Ekuin)
6. Kuntoro Mangkusubroto (Menteri Pertambangan & Energi)
7. Justika Baharsjah (Menteri Pertanian)
8. Rachmadil Bambang Sumadhijo (Menteri Pekerjaan Umum)
9. Rahardi Ramelan (Menteri Penyelidikan & Teknologi)
10. Subiakto Tjarawerdaya (Menteri Koperasi & Pengusaha Kecil)
11. Sanyoto Sastrowardoyo (Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM)
12. Sumahadi (Menteri Kehutanan & Perkebunan)
13. Theo L. Sambuaga (Menteri Tenaga Kerja)
14. Tanri Abeng (Menteri Negara Pendayagunaan BUMN)

Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin menyatakan jabatannya non-politis sehingga tidak berkenan menyatakan sikap. Sedangkan Ary Mardjono (Menteri Negara Agraria/Kepala BPN) mengatakan tetap loyal kepada Soeharto.

Setelah kesepakatan diambil, empat belas menteri yang baru dilantik 16 Maret 1998 itu memutuskan untuk menyampaikan pernyataan sikapnya melalui surat kepada Soeharto. Akbar Tanjung memimpin penyusunan surat pernyataan tersebut.




--------
Dengan hormat,
Bersama surat ini dengan hormat kami laporkan bahwa setelah melakukan evaluasi terhadap situasi akhir-akhir ini terutama di bidang ekonomi, kami berkesimpulan bahwa situasi ekonomi kita tidak akan mampu bertahan lebih dari 1 (satu) minggu apabila tidak diambil langkah-langkah politik yang cepat dan tepat sesuai dengan aspirasi yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat khususnya mengenai reformasi di segala bidang, seperti antara lain yang direkomendasi oleh DPR-RI dengan pimpinan fraksi-fraksi pada hari selasa, 19 Mei 1998.

Dalam hubungan itu kami bersepakat bahwa langkah pembentukan kabinet baru sebagaimana yang Bapak rencanakan tidak akan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati kami secara pribadi-pribadi menyatakan tidak bersedia diikutsertakan dalam kabinet baru tersebut.

Sebagai anggota Kabinet Pembangunan VII kami akan tetap membantu sepenuhnya pelaksanaan tugas yang Bapak emban dalam menyukseskan Catur krida Kabinet Pembangunan VII. Atas perhatian dan perkenan Bapak kami ucapkan terima kasih.
-------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[MASALAH]

  Setiap manusia pasti memiliki masalah, tanpa masalah bisa dipastikan ia bukan manusia. Masalah tentu membuat kita terbebani dan berusaha mencari pelarian sebagai tempat menyelesaikan minimal menguranginya. Beberapa masalah bagi kita terutama pemuda 1. Narkoba dan Rokok Hal-hal yang merusak dan dan kurang bermanfaat jangan dilakukan bahkan didekati karena ia bukan menjadi solusi bahkan menambah beban sebenarnya. 2. Pubersitas Penuhi hari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat. Jika banyak waktu luang maka akan terpikir untuk melakukan sesuatu yang tak bermanfaat bahkan merusak 3. Perkuliahan Konsekuensi seorang mahasiswa adalah kuliah. Tak mungkin meraih gelar sarjana tanpa kuliah. Nikmati saja prosesnya seberat apapun maka kita akan sampai pada kesuksesan yang diimpikan. Solusi menghadapi masalah : 1. Bersikap tenang, ketenangan sebagian dari menyelesaikan masalah tersebut. 2. Bersabar, setiap masalah pasti ada batasnya. Baik batas waktu maupun batas bobot masalahnya. Tentu masalah...

[AGRESI DIBULAN SUCI] 28 Ramadhan

Begitulah watak penjajah, merampas tanpa mengenal etika dan kemanusiaan. Mentalitas jahat tak mungkin mengenal nilai kemanusiaan dan keyakinan (agama). Saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan, Belanda melakukan penyerangan, Agresi militer. Bahkan memang di sengaja karena mereka berasumsi saat Ramadan, ketika berpuasa, saat lapar itulah titik lemah umat Islam. Pastinya tidak akan maksimal bertahan atau malakukan perlawanan. Umat Islam baru saja usai menunaikan Ibadah Puasa hari kedua. Hari ketiga bulan penuh berkah itu tiba-tiba terjadi penyerangan mendadak. Dan serangan itu sebuah pelanggaran dari sebuah kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Hari itu akan selalu di ingat oleh sejarah Indonesia. 3 Ramadan 1366 H, bertepatan dengan Senin 21 Juli 1947. Pasukan Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata dengan kubu Republik, menyudahi upaya diplomasi antara Belanda dan kubu Republik untuk ...