Langsung ke konten utama

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

 


Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa.

Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada.

Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini.

Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja.

Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri adalah berkata jujur dan benar pada mereka yang sedang khilaf dan punya otoritas mengatur khalayak, namun tak bijak dalam bersikap (sewenang-wenang).

Untuk kedua kalinya saya ketemu kembali dengan Ananda Emran Sulaiman. Bocah kecil, namun melampaui orang besar (dewasa) kekuatannya menjalani hidup. Dua tahun lebih berjuang melawan sakit.

Begitulah cara Allah Swt. menyentil kita yang sombong dan lupa diri. Baru diuji hal sepele, sudah nyeleneh. Cuma dicoba tak seberapa, lupa dari mana ia bermula. Hanya ditegur ala kadarnya, malah kian menjadi-jadi penyimpangannya.

Sebagian dari oleh-oleh perjumpaan itu adalah cermin untuk sejenak melihat kedalam diri. Kenapa mereka bisa seperti itu dan kita tidak? Maka segera berbenah mengejar ketertinggalan dan memantaskan diri, secepat mungkin tersadar dan kembali ke rute yang benar. Bukan lihat orang senang kita jadi susah, lihat orang susah kita senang.

Ada benarnya ucapan Ki Hajar Dewantara, "Setiap orang menjadi guru, setiap tempat menjadi sekolah." Jika bisa ditambahkan, "Setiap perjumpaan, menjadi mata pelajaran kehidupan."

Sebagai cenderamata sederhana perjumpaan hanya buku "Pemuda Inspirasi Wajah Negeri" dan "Buku, Pena dan Kita" yang bisa saya berikan. Semoga berkenan.

Terima kasih Mbak Nana Yunita atas secangkir kopi menemani kami bertiga ngobrol dan hidangan santap siangnya membuat kami kuat bercerita selama 6 jam lamanya.(*)

 

Cordova Street A-03, 25 April 2026, 01:28
#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #Perjumpaan #Palajaran #Kehidupan
@rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

154 [MUHARRAM]

  Ada yang menilai sesuatu sebatas seremonial, ramai tapi singkat, riuh tapi kering, gemerlap namun tak bertahan, semarak namun cepat berlalu. Kadang ada yang memaknainya lebih dalam dari sebab musabab hadirnya. Merasakannya tak singkat karena mempertahankan keistimewaannya dalam berlaku. Menjadikannya titik tolak dari semua perubahan yang ingin diraih. Muharram akan masuk sepertiga akhir. Bahkan sebagian orang sudah mulai kembali ke mode awal. Tak ada kalender baru seperti masehi yang berganti di dinding kamar dan kantor. Nggak ada perubahan kaku dalam menuliskan tanggal efek tahun dan bulan baru. Refleksi dan resolusi di awal tahun kadang cuma formalitas. Ritual tahunan atau cuma sekadar kebutuhan konten dan postingan media sosial agar nampak kekinian. Muharram penanda peristiwa hijrah. Ia juga harus menjadi titik tolak perubahan dalam diri. Muharram lembaran baru dari halaman buku tahunan. Tentu bosan menulis hal yang sama, hambar mencatat hal yang serupa, atau hampa c...

151 [KUAT BERSAMA-NYA]

  Kita telah sampai pada pertengahan tahun 2026, akhir bulan Juni. Dan juga bersamaan dengannya menapaki awal tahun baru Islam 1448 Hijriyah. Banyak waktu yang terlewati, banyak peristiwa terlalui dengan beragam ujian yang tak kecil, kadang di luar prediksi. Lalu kenapa dan bagaimana diri bisa sampai titik ini dengan berbagai deraan yang begitu keras, bahkan sempat tersungkur itu? Hari-hari dan tahun berikutnya mustahil ada jaminan, tanpa ujian. Bukan manusia bila tak diuji, bukan hidup jika ujian berhenti. Kualitas orang terlihat dari seberapa sering berhadapan dengan ujian. Level seseorang terbentuk dari seberapa kuat melewati ujian berat. “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dari besarnya ujian. Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang rida dengan ujian itu, maka dia mendapat rida-Nya. Siapa yang membenci ujian itu, maka Allah memurkainya.” (HR. at-Trmidzi dan Ibnu Majah) Ujian jangan disempitkan hanya berupa penderitaan sema...

[SALAM PAGI 198: TAK ADA KATA JEDA BERBUAT BAIK]

  Assalamu'alaikum Pagi "Kapan berhenti berbuat baik? Ketika ada jaminan Anda masuk surga atau ajal Anda telah tiba." Pagi ini banyaklah tersenyum dan rasakan hingga hati Anda juga tersenyum. Senyum lahir batin. Tentu hal itu akan membuat orang lain juga senang melihatnya kemudian menyukai Anda. Tersenyum dan membuat orang senang dengannya merupakan kebaikan yang tak hanya membuat bahagia sendiri, tapi menjalar kebaikan pada orang lain pula. “Senyum di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi) Pagi ini bila sedang sendiri atau tak menjumpai orang sebagai lawan tersenyum. Anda bisa mengisi waktu dengan berzikir dari banyak lafadz zikir yang dianjurkan. Jumlahnya semampu Anda, lamanya sampai Anda sendiri merasa cukup. Dengannya Anda berbuat kebaikan yang juga membuat hidup tenang juga bahagia. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (tentram).” (QS. Ar-Ra’d: 28) Pagi ini cobalah isi wadah dengan air dan simpan di p...