Langsung ke konten utama

[Kebaikan Kadang Perlu Dipaksakan] #CatatanSyawal 05

 


Sudah lama tidak menulis artikel yang agak panjang. Maksud saya dengan panjang 8-10 paragraf. Biasanya 4-5 paragraf ala status Facebook dan media sosial lainnya.

Ramadan kemarin coba menantang diri sendiri agar rutin menulis artikel panjang sebulan penuh. Dengan peningkatan volume dan frekuensi ibadah selama Ramadan, saya juga sadar waktu akan menjadi kendala dan alasan yang melemahkan diri. Dan ini selalu berulang dan celah kegagalan.

Saya mengajak Kang Syamsudin Kadir agar niatan baik itu terlaksana di website Penerbit Panggita www.panggitapublishing.com. Setidaknya saat saya bolong tidak menulis, goresan beliau menambalnya. Bila beliau kosong, saya wajib mengisi. Alhamdulillah jika kami berdua sama-sama menulis lebih dari satu artikel tiap hari. Gayung bersambut.

Sempat datang kekhawatiran, bagaimana bila suatu hari kami berdua sama-sama kosong menulis? Saya coba mengajak seorang sohib lama semasa aktivis mahasiswa dulu, Ustadz Junaidi Ana . Tema seputar Ramadan yang begitu banyak sepertinya tidak sulit bagi beliau berbagi lewat tulisan. Alhamdulillah disambut hangat dan kami sama-sama Bismillah...

Ada juga beberapa orang saya coba diskusi dan ajak nimbrung buat dan kirim tulisan menyukseskan hal di atas. Tapi, tak sedikit yang angkat tangan. Alasannya kesibukan selama Ramadan.

Hingga akhir Ramadan ada sebanyak lebih dari 60 tulisan kami bertiga diposting dan bagikan. Malah kami tambah lagi 7 hari bulan Syawal bila ada tema seputar Idulfitri yang perlu disalurkan.

Bila puasa 30 hari itu biasa, shalat malam (tarawih, tahajud, witir) plus sahur sebulan penuh itu sudah rutin, tilawah hingga khatam sudah jadi tradisi. Membiasakan hal baru menulis artikel panjang, kadang perlu dipaksa. Baik oleh diri sendiri dan atau membuat sistem/ekosistemnya.

Nah membawa tantangan dan kebiasaan baru rutin menulis artikel panjang harian di luar Ramadan, ini menjadi PR bagi kami berdua (Saya dan Ustaz Jun). Kalau Kang Syamsudin Kadir beliau sudah teruji.
Kita bismillah aja dulu dengan menulis pekanan, baru kemudian ditingkatkan secara bertahap. Tradisi istiqomah lebih bertahan lama bila dibandingkan kebiasaan kejar setoran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

01 [MASJID AGUNG NURUL HUDA SUMBAWA]

Salah satu Masjid yang menjadi pusat keIslaman di Sumbawa Nusa Tenggara Barat adalah Masjid Agung Nurul Huda dipusat Kota Sumbawa. Bagi saya pribadi, pertama kali ke sini saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2004 silam. Kemudian kembali bersua saat bulan Mei 2017, selanjutnya Agustus 2017 saya lebih intens dan sering ke Masjid ini dan sempat mengukuti berbagai kegiatan keIslaman yang disajikan. Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa ini sangat memiliki peran strategis dalam penyebaran Islam diSumbawa. Menelisik sejarah dari berbagai sumber terungkap fakta bahwa masjid yang bersebelahan dengan Istana Kesultanan Sumbawa, Istana Tua “Dalam Loka” merupakan  Masjid Kesultanan Sumbawa. Masjid ini berdiri sejak tahun 1648 silam dan telah mengalami beberapa kali pemugaran.  Pada masa Sultan Dewa Mas Pamayam yang juga disebut Mas Cini (1648-1668) Telah ada masjid dilingkungan istana walau masih relatif sederhana bagunannya. Pada tahun 1931 masjid mengalami rehab kecil. Pada masa bu...

[TAK CUKUP COPY, PASTE DAN SHARE JUGA] #NulisRabilulAwal

  Hidup tak sekadar puas dengan kopi ( copy ), tapi lipat gandakan kebahagiaan juga kebaikan dengan paste (tempel) dan share (berbagi) hal itu ke banyak tempat, orang dan waktu.   Ada kesenangan yang cuma dipendam dalam diri sendiri saja, padahal bisa dibagi tanpa mengurangi. Ada kebahagiaan sekecil apa itu rupanya yang tak boleh berhenti pada diri saja, perlu dilanjutkan kemana-mana. Banyak kebaikan yang kadang sepele, hanya puas untuk "aku" saja. Padahal bisa digandakan tak hingga.   Jika memasak dan aromanya hingga masuk rumah tetangga, Rasulullah saw. meminta kita melebihkan kuahnya untuk dirasakan tetangga tersebut.   Saat hati patah dan hidup penuh duri sana sini. Kenapa kita perlu senyum saat berjumpa sesama? . Maknai senyum sebagai cara praktis dan gratis bersedekah saat di uji kegagalan dan diterpa kekurangan. Sebagaimana Rasulullah saw. Bilang, senyum pada saudaramu itu sedekah.   Ah itu nampak terlalu mencari validasi atau pencitraan dalam kacamata ...

[SALAM PAGI 198: TAK ADA KATA JEDA BERBUAT BAIK]

  Assalamu'alaikum Pagi "Kapan berhenti berbuat baik? Ketika ada jaminan Anda masuk surga atau ajal Anda telah tiba." Pagi ini banyaklah tersenyum dan rasakan hingga hati Anda juga tersenyum. Senyum lahir batin. Tentu hal itu akan membuat orang lain juga senang melihatnya kemudian menyukai Anda. Tersenyum dan membuat orang senang dengannya merupakan kebaikan yang tak hanya membuat bahagia sendiri, tapi menjalar kebaikan pada orang lain pula. “Senyum di hadapan saudaramu adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi) Pagi ini bila sedang sendiri atau tak menjumpai orang sebagai lawan tersenyum. Anda bisa mengisi waktu dengan berzikir dari banyak lafadz zikir yang dianjurkan. Jumlahnya semampu Anda, lamanya sampai Anda sendiri merasa cukup. Dengannya Anda berbuat kebaikan yang juga membuat hidup tenang juga bahagia. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang (tentram).” (QS. Ar-Ra’d: 28) Pagi ini cobalah isi wadah dengan air dan simpan di p...