Sudah lama tidak menulis artikel yang agak panjang. Maksud saya dengan panjang 8-10 paragraf. Biasanya 4-5 paragraf ala status Facebook dan media sosial lainnya.
Ramadan kemarin coba menantang diri sendiri agar rutin menulis artikel panjang sebulan penuh. Dengan peningkatan volume dan frekuensi ibadah selama Ramadan, saya juga sadar waktu akan menjadi kendala dan alasan yang melemahkan diri. Dan ini selalu berulang dan celah kegagalan.
Saya mengajak Kang Syamsudin Kadir agar niatan baik itu terlaksana di website Penerbit Panggita www.panggitapublishing.com. Setidaknya saat saya bolong tidak menulis, goresan beliau menambalnya. Bila beliau kosong, saya wajib mengisi. Alhamdulillah jika kami berdua sama-sama menulis lebih dari satu artikel tiap hari. Gayung bersambut.
Sempat datang kekhawatiran, bagaimana bila suatu hari kami berdua sama-sama kosong menulis? Saya coba mengajak seorang sohib lama semasa aktivis mahasiswa dulu, Ustadz Junaidi Ana . Tema seputar Ramadan yang begitu banyak sepertinya tidak sulit bagi beliau berbagi lewat tulisan. Alhamdulillah disambut hangat dan kami sama-sama Bismillah...
Ada juga beberapa orang saya coba diskusi dan ajak nimbrung buat dan kirim tulisan menyukseskan hal di atas. Tapi, tak sedikit yang angkat tangan. Alasannya kesibukan selama Ramadan.
Hingga akhir Ramadan ada sebanyak lebih dari 60 tulisan kami bertiga diposting dan bagikan. Malah kami tambah lagi 7 hari bulan Syawal bila ada tema seputar Idulfitri yang perlu disalurkan.
Bila puasa 30 hari itu biasa, shalat malam (tarawih, tahajud, witir) plus sahur sebulan penuh itu sudah rutin, tilawah hingga khatam sudah jadi tradisi. Membiasakan hal baru menulis artikel panjang, kadang perlu dipaksa. Baik oleh diri sendiri dan atau membuat sistem/ekosistemnya.
Nah membawa tantangan dan kebiasaan baru rutin menulis artikel panjang harian di luar Ramadan, ini menjadi PR bagi kami berdua (Saya dan Ustaz Jun). Kalau Kang Syamsudin Kadir beliau sudah teruji.
Kita bismillah aja dulu dengan menulis pekanan, baru kemudian ditingkatkan secara bertahap. Tradisi istiqomah lebih bertahan lama bila dibandingkan kebiasaan kejar setoran.

Komentar
Posting Komentar