Langsung ke konten utama

Marhaban Ya Ramadan

 


RAMADAN terhitung tak lama lagi. Bahkan terhitung beberapa hari dan jam lagi. Untuk penetapan resmi negara akan kita nantikan melalui keputusan Sidang Isbat yang dihadiri oleh unsur pemerintah (Kementrian Agama), Ormas Islam, MUI dan para ahli lintas disiplin ilmu sesuai kebutuhan.
 
Sembari menanti itu, harus diakui bahwa sepertinya kita, ya umat Islam di seluruh penjuru dunia, selalu gembira dengan Ramadan. Dengan begitu kedatangannya pun ditunggu-tunggu. Bahkan kita menunggunya sejak beberapa bulan sebelumnya. Dari elemen tua dan muda hingga anak-anak pun semunya kerap memperlihatkan kegembiraan dengan caranya masing-masing.
 
Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan memang memiliki daya tarik tersendiri. Ia mengandung banyak pesan, sebab di dalamnya ditunaikan berbagai anjuran ibadah yang khas. Sehingga bulan ini menjadi lebih spesial dari bulan yang lainnya. Tentu poinnya pada ibadah-ibadah khas yang memang hanya terdapat dalam Ramadan mulia. Maka, umat Islam pun bergembira dengan kedatangannya.
 
Hal ini sangat sesuai dengan apa yang Allah firmankan,
 
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus  ayat  58)
 
Dalam sebuah haditsnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
 
“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian ber-shaum padanya. Pintu-pintu jahim (neraka) ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad)
 
Ya, salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim adalah bergembira dengan datangnya bulan Ramadan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hatinya menjadi sangat senang karena tamunya yaitu ramadan akan datang tak lama lagi. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadan.
 
Atas dasar itu para ulama mengingatkan kita agar hendaknya kita khawatir bila dalam diri kita tak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadan. Kita mesti evaluasi diri bila diri kita merasa biasa-biasa saja dan tidak menganggap tak ada yang istimewa di saat Ramadan tiba. Sebab bisa jadi iman kita lagi melemah, sehingga kita meremehkan kedatangannya, lalu kita pun kehilangan momentum untuk meraih berbagai keutamaan dan kebaikan. Padahal ramadan adalah karunia dari Allah yang sangat khusus, dan karena itu kita mesti bergembira dengan kedatangannya.
 
Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadan yang lalu) mereka.”
 
Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadan. Beribadah semakin nikmat, lezatnya bermunajat kepada Allah, memperkokoh silaturahim dengan keluarga, meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan melalui berbagai forum ilmu dan masih banyak lagi.
 
Selain gembira, diantara cara terbaik dari banyak cara dalam menanti Ramadan mulia tahun ini adalah dengan banyak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya. Sembari itu, kita juga harus memohon kepada Allah agar kiranya kita masih diberi kesempatan untuk bersua dengan ramadan yang di dalamnya memiliki banyak keunikan, kemuliaan dan keutamaan.
 
Allah mengajarkan kita kepada contoh doa seorang hamba yang hendak memohon ampun kepada-Nya,
 
“Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engakulah Pemberi yang terbaik.” (QS. al-Mukminun ayat 118)
 
“Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.”( QS. Ali ‘Imran ayat  16)
 
Selain itu, menjelang dan pada bulan dimana al-Quran diturunkan ini, kita perlu juga saling memaafkan dan berbagi senyum ceria pada sesama. Kepada keluarga kita, tetangga kita, sahabat kita, teman kerja kita, teman sekantor kita dan siapapun di luar sana. Sebab bisa jadi selama ini kita kerap salah dalam berucap, sering keliru dalam melangkah dan buruk sangka dalam menduga.
 
Sebuah riwayat mengingatkan kita,
 
“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab: tentu. Rasul pun bersabda: Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat zolim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahim denganmu.” (HR. At-Thabrani)
 
Semoga Allah menerima seluruh taubat kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghapus berbagai khilaf kita selama ini, baik yang sengaja kita lakukan maupun yang tak sengaja kita lakukan. Sungguh, Ia Maha Penerima Taubat dan Maha Pengampun atas seluruh hamba-Nya yang bertaubat dan memohon ampun. Apalah lagi di momentum Ramadan, tentu Allah sangat menanti kesediaan hamba-Nya untuk menengadah, mengharap ampunan dan ridho-Nya. 
 
Mari kita sambut Ramadan kali ini dengan optimis, suka-cita, saling memaafkan, dan menyiapkan iman, spiritual, mental, fisik, ibadah, waktu, fokus dan amal-amal soleh terbaik.
 
Selain itu, mari menjaga hubungan baik dengan sesama kita, baik sesama muslim maupun sesama warga negara; termasuk dengan memperbaiki komunikasi dan silaturahim kepada siapapun, serta banyak menolong atau membantu sesama semampu atau sebiasanya kita. Dan yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas hubungan baik dengan mereka yang sangat kita cinta. Orangtua dan keluarga besar, termasuk kaum fakir dan miskin yang membutuhkan uluran tangan kita.    
 
Semoga dengan begitu, Ramadan yang segera menjelang benar-benar bisa kita nanti dan kelak kita isi secara maksimal dan produktif, sehingga mempermudah jalan kita menjadi hamba Allah yang bertakwa.
 
“Agar kalian bertakwa,” demikian Allah berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah bagian ujung ayat 183. Yaitu hamba yang bukan saja dicintai Allah dan Rasul-Nya, tapi juga dicintai makhluk langit dan bumi serta seisinya. 
 
Akhirnya, mari mengucapkan secara riang, tulus dan tanpa beban kepada bulan yang sama-sama kita nantikan juga rindukan kedatangannya: Marhaban yaa Ramadan, marhaban syahru shiam dan marhaban bulan mulia nan berkah! []  
 
*)Tulisan aslinya dengan judul yang sama, “Marhaban Ya Ramadan” terdapat pada buku “Pendidikan Ramadan” (2020) karya Syamsudin Kadir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

040 [PAHALA SECANGKIR KOPI]

  Siapa yang tak mengenal kopi, minuman yang hampir semua orang tau dan pernah menyicipinya. Makin ke sini, kian ramai berdiri kedai-kedai kopi. Bahkan dikelola olah anak-anak muda. Mulai dengan menyewa bangunan atau toko hingga rombong sederhana ala kaki lima. Selain mendapatkan kenikmatan dalam setiap sruputnya, kita juga ingin mendapatkan hal lebih. Bagaimana dari secangkir kopi dapat meraih beberapa pahala. Tentu dengan mengikuti bagaimana cara minum   sesuai dengan tuntunan agama. Cukup sederhana dan tak akan mengurangi gaya minum kopi kita sehari-hari. Pertama, Jangan meniup, tunggu saja hingga agak dingin. Kopi yang disajikan dengan seduhan air panas, tentu perlu dibiarkan sejenak agar suhunya sesuai dengan kadar panas yang bisa diterima oleh mulut dan lidah kita. Tak perlu terburu-buru meniupnya. Biarkan ia mendingin sendiri sejenak. Hadis dari Ibnu Abbas r.a.   “Nabi  shallallahu ‘alaihi wassalam  melarang bernafas di dalam gelas atau meniupi gel...

34 [SEGERA GANTI UTANG PUASA RAMADAN] Jelajah Ramadan

  Bagi mereka yang memiliki uzur, sesuatu hal yang dibenarkan oleh syariat sehingga diberi keringanan untuk tidak berpuasa pada Ramadan sebelumnya. Maka pada bulan Syakban ini menjadi waktu terakhir untuk membayar utang (Qadha’)  puasa tersebut.   Sebagian dari kita biasanya menunda-nunda mengganti puasa karena berbagai kesibukan. Sebaik-baiknya adalah menyegerakan mengganti puasa tersebut sebelum masuk Ramadan berikutnya. Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa beliau mendengar ‘Aisyah ra.   mengatakan,   “Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu mengqadha’nya kecuali di bulan Sya’ban.” Yahya (salah satu perowi hadits) mengatakan bahwa hal ini dilakukan ‘Aisyah karena beliau sibuk mengurus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . (HR. Bukhari dan Muslim) Ada beberapa golongan yang diberi keringanan atau diharuskan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadan dan mesti mengqadha’ puasanya setelah lepas dari uzur , yaitu: Pertama, orang yang sakit dan ...