RAMADAN terhitung tak lama
lagi. Bahkan terhitung beberapa hari dan jam lagi. Untuk penetapan resmi negara
akan kita nantikan melalui keputusan Sidang Isbat yang dihadiri oleh unsur
pemerintah (Kementrian Agama), Ormas Islam, MUI dan para ahli lintas disiplin
ilmu sesuai kebutuhan.
Sembari
menanti itu, harus diakui bahwa sepertinya kita, ya umat Islam di seluruh
penjuru dunia, selalu gembira dengan Ramadan. Dengan begitu kedatangannya pun
ditunggu-tunggu. Bahkan kita menunggunya sejak beberapa bulan sebelumnya. Dari
elemen tua dan muda hingga anak-anak pun semunya
kerap
memperlihatkan kegembiraan dengan caranya masing-masing.
Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan memang memiliki daya tarik
tersendiri. Ia mengandung banyak pesan, sebab di dalamnya ditunaikan berbagai
anjuran ibadah yang khas. Sehingga bulan ini menjadi lebih spesial dari bulan
yang lainnya. Tentu poinnya pada
ibadah-ibadah khas yang memang hanya terdapat dalam Ramadan mulia. Maka, umat
Islam pun bergembira dengan kedatangannya.
Hal
ini sangat sesuai dengan apa yang Allah firmankan,
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia
Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan
rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’.” (QS. Yunus ayat 58)
Dalam
sebuah haditsnya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Telah datang kepada kalian
Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian ber-shaum padanya.
Pintu-pintu jahim (neraka) ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya
terdapat sebuah malam yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia
terhalangi.” (HR. Ahmad)
Ya,
salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim adalah bergembira dengan
datangnya bulan Ramadan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia
nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hatinya menjadi sangat
senang karena tamunya yaitu ramadan akan datang tak lama lagi. Tentu lebih
senang lagi jika ia menjumpai Ramadan.
Atas
dasar itu para ulama mengingatkan kita agar hendaknya kita khawatir bila dalam
diri kita tak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadan. Kita mesti evaluasi
diri bila diri kita merasa biasa-biasa saja dan tidak menganggap tak ada yang
istimewa di saat Ramadan tiba. Sebab
bisa jadi iman kita lagi melemah, sehingga kita meremehkan kedatangannya, lalu
kita pun kehilangan momentum untuk meraih berbagai keutamaan dan kebaikan. Padahal
ramadan adalah karunia dari Allah yang sangat khusus, dan karena itu kita mesti
bergembira dengan kedatangannya.
Ibnu
Rajab Al-Hambali berkata, “Sebagian salaf
berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar
mereka dipertemukan lagi dengan ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama
enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadan yang lalu) mereka.”
Kegembiraan
tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, keutamaan, dan berkah pada bulan Ramadan.
Beribadah semakin nikmat, lezatnya bermunajat kepada Allah, memperkokoh
silaturahim dengan keluarga, meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan melalui
berbagai forum ilmu dan masih banyak lagi.
Selain
gembira, diantara cara terbaik dari banyak cara dalam menanti Ramadan mulia
tahun ini adalah dengan banyak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun
kepada-Nya. Sembari itu, kita juga harus memohon kepada Allah agar kiranya kita
masih diberi kesempatan untuk bersua dengan ramadan yang di dalamnya memiliki
banyak keunikan, kemuliaan dan keutamaan.
Allah
mengajarkan kita kepada contoh doa seorang hamba yang hendak memohon ampun
kepada-Nya,
“Ya Tuhanku, berilah ampunan
dan (berilah) rahmat, Engakulah Pemberi yang terbaik.” (QS.
al-Mukminun ayat 118)
“Ya Tuhan kami, kami
benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari
azab neraka.”( QS. Ali ‘Imran ayat 16)
Selain
itu, menjelang dan pada bulan dimana al-Quran diturunkan ini, kita perlu juga
saling memaafkan dan berbagi senyum ceria pada sesama. Kepada keluarga kita,
tetangga kita, sahabat kita, teman kerja kita, teman sekantor kita dan siapapun
di luar sana. Sebab bisa jadi selama ini kita kerap salah dalam berucap, sering
keliru dalam melangkah dan buruk sangka dalam menduga.
Sebuah
riwayat mengingatkan kita,
“Maukah aku ceritakan kepadamu
mengenai sesuatu yang membuat Allah memuliakan bangunan dan meninggikan
derajatmu? Para sahabat menjawab: tentu. Rasul pun bersabda: Kamu harus
bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang
berbuat zolim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga
menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahim denganmu.” (HR.
At-Thabrani)
Semoga
Allah menerima seluruh taubat kita, mengampuni dosa-dosa kita dan menghapus
berbagai khilaf kita selama ini, baik yang sengaja kita lakukan maupun yang tak
sengaja kita lakukan. Sungguh, Ia Maha Penerima Taubat dan Maha Pengampun atas
seluruh hamba-Nya yang bertaubat dan memohon ampun. Apalah lagi di momentum Ramadan,
tentu Allah sangat menanti kesediaan hamba-Nya untuk menengadah, mengharap
ampunan dan ridho-Nya.
Mari kita
sambut Ramadan kali ini dengan optimis, suka-cita, saling memaafkan, dan
menyiapkan iman, spiritual, mental, fisik, ibadah, waktu, fokus dan amal-amal
soleh terbaik.
Selain
itu, mari menjaga hubungan baik dengan sesama kita, baik sesama muslim maupun
sesama warga negara; termasuk dengan memperbaiki komunikasi dan silaturahim
kepada siapapun, serta banyak menolong atau membantu sesama semampu atau
sebiasanya kita. Dan yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas
hubungan baik dengan mereka yang sangat kita cinta. Orangtua dan keluarga
besar, termasuk kaum fakir dan miskin yang membutuhkan uluran tangan kita.
Semoga
dengan begitu, Ramadan yang segera menjelang benar-benar bisa kita nanti dan
kelak kita isi secara maksimal dan produktif, sehingga mempermudah jalan kita
menjadi hamba Allah yang bertakwa.
“Agar kalian bertakwa,”
demikian Allah berfirman dalam al-Quran surat al-Baqarah bagian ujung ayat 183.
Yaitu hamba yang bukan saja dicintai Allah dan Rasul-Nya, tapi juga dicintai
makhluk langit dan bumi serta seisinya.
Akhirnya,
mari mengucapkan secara riang, tulus dan tanpa beban kepada bulan yang
sama-sama kita nantikan juga rindukan kedatangannya: Marhaban yaa Ramadan, marhaban syahru shiam dan marhaban bulan mulia nan berkah! []
*)Tulisan aslinya dengan judul yang sama, “Marhaban Ya Ramadan” terdapat pada buku
“Pendidikan Ramadan” (2020) karya Syamsudin Kadir.

Komentar
Posting Komentar