Langsung ke konten utama

[KURMA] #KulinerRamadan 01

 


“Kurma identik dengan Ramadan dan puasa. Padahal menikmatinya tak harus di bulan Ramadan saja dengan kandungan dan manfaatnya yang besar.”
 
Kuliner hari pertama ini adalah Kurma. Buah yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara itu menjadi semacam hidangan wajib saat berbuka puasa. Baik formal resmi hingga rumahan. Hal tersebut tidak jauh dari alasan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw.
 
Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhobbi ra., dari Nabi saw., beliau bersabda, Jika salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan tamr (kurma kering). Jika tidak dapati kurma, maka berbukalah dengan air karena air itu mensucikan.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, An Nasai, Tirmidzi)
 
Waktu kecil dulu, saya kurang suka dengan buah Kurma, terutama saat berbuka puasa. Selain rasanya yang terlalu manis, keluarga yang berislam biasa-biasa saja belum menempatkan kurma sebagai makanan wajib berbuka. Ia kalah dengan makanan dan minuman berbuka lainnya seperti es kelapa, es cendol, kolak atau minimal sirup dingin.
 
Ketika kuliah dan mengikuti beberapa kajian Ramadan, kini kurma menjadi menu minimal saat berbuka puasa. Baik puasa sunah maupun puasa wajib. Dalam kacamata kesehatan kandungan dan manfaat kurma tak bisa dianggap sebelah mata. Salah satunya dari sebuah artikel yang saya baca ini: https://www.alodokter.com/manfaat-buah-kurma-untuk-kesehatan. Dalam 4 butir kurma saja mengandung sekitar 300 kalori, juga menyimpan protein, karbohidrat, serat, vitamin A, vitamin B6, vitamin K, asam folat, zat besi, seng, mangan, serta beragam jenis antioksidan, seperti lutein dan flavonoid.
 


Manfaat lainnya dituliskan meningkatkatkan energi, mendukung kesehatan sistem pencernaan, mengontrol gula darah dan tekanan darah, menjaga kesehatan ibu hamil dan mendukung tumbuh kembang janin, mendukung kesehatan dan kekuatan tulang, menjaga kesehatan mata, mencegah anemia, dan mencegah pertumbuhan sel kanker.
 
Saat Ramadan pertama masa Pandemi Covid-19 lalu, saya membaca sebuah hadis tentang keajaiban memberi separuh biji kurma. Diriwayatkan dari Adi bin Hatim, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Berjagalah (dari) api neraka walaupun hanya dengan sebelah buah kurma’.” (HR. Bukhari).  Penjelasan hadis itu tak bisa dianggap sepele. Sebab dengan bersedekah (memberi) sesederhana separuh kurma bisa membuat pemberinya terhindar dari api neraka.
 
Saat mudik, kurma menjadi salah satu bekal berbuka saat diperjalanan dan berbagi penumpang lain di kiri dan kanan. Bahagia itu apa indahnya hanya sendiri? Jangan lupa berbagi, jangan jera memberi.
 
Selamat berbuka puasa…
 
Cordova Street A-03, 19022026
IWAN Wahyudi
#KulinerRamadan #SuluhRamadan #Kurma #PenerbitPanggita #EnergiRamadan #JelajahRamadan
#MariBerbagiMakna #CatatanPuasa #LiterasiRamadan #InspirasiWajahNegeri #Ramadan #Puasa #reHATIwan #IWANwahyudi #reHATIwanInspiring

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[TEH HANGAT] #KulinerRamadan 04

  “Teh berasal dari Cina. Sangat nikmat diminum ketika hangat atau dingin. Minum teh tawar (tanpa gula) secara teratur dapat menurunkan kolestrol dan meredakan stres.”   Saat itu kelas 2 SMP sekolah kelas siang (masuk siang, pulang sore maksudnya). Sekolah dikampung saat musim kemarau dengan bersepeda, di Bima lagi yang terkenal ber matahari tiga saking panasnya.    Bulan sudah memasuki bulan Dzulhijjah, rumah panggung kami sepi, saya sendiri. Orang tua sedang perjalanan ke tanah suci dan adik menginap di rumah kakek, di desa tetangga. Tibalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Iduladha). Seperti biasa berkesempatan puasa sunah Arafah. Terasa berat, berangkat sekolah siang bolong ditengah terik, pulang sore dengan sisa tenaga. Menunggu Azan Magrib terasa waktu lambat, perut keroncongan. Makanan berbuka tidak ada yang dingin. Maklum di desa tidak ada yang jual es batu, saat itu satu desa bisa di hitung dengan jari yang punya lemari es. Saya putuskan berbaring u...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...