Langsung ke konten utama

24 [SEMPOL AYAM] 30 Hari Bercerita

 


Hai, Pak Pos.
 
Ini kartu pos dari tempatku hari ini. Yang ada di foto adalah Sempol Ayam. Cemilan pinggir jalan yang bukan dari daerah kami di NTB. Sempol terbuat dari tepung tapioka, daging ayam dan bumbu bawang putih, garam dan penyedap rasa. Bahan tersebut dibuat adonan yang kemudian dililitkan pada tusuk sate hingga bentuknya lonjong, direbus hingga matang, lalu digoreng. Agar teksturnya garing dan renyah, sebelum digoreng, sempolan dicelupkan ke dalam kocokan telur terlebih dahulu.
 
Saya baru mengenal cemilan sempol ini pada tahun 2017. Memang lumayan jauh dari tempatnya berasal ke daerah kami di Indonesia timur. Sebuah Desa bernama Sempol, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Jawa Timur tempat cemilan murah meriah ini lahir dan populer sekitar tahun 2010-an.
 
Aku ingin kamu tahu bahwa hari ini aku dapat keluar sekadar jalan-jalan kecil akhir pekan menikmati sempol ayam @sempol_ayam_nagih . Ditengah sepekan terakhir cuaca campur sari hujan dan angin yang membuat khawatir dan mengurangi keluar rumah.
 
Dan dari sempol ayam ini saya dapat mengambil pelajaran. Pertama, jangan berhenti berinovasi mencoba menu makanan baru, bisa jadi dari itu bisa muncul kuliner baru yang disukai masyarakat. Kedua, untuk eksis tidak harus menunggu sempurna dan wah. Sempol ayam jajanan kaki lima dengan harga seribu/tusuk bisa populer. Ketiga, nikmati kuliner nusantara. Jangan latah dan sok gaya makanan ala luar/asing  keseringan. Nanti tidak sadar ada yang aneh pada dirimu. Sok kebarat-baratan, tapi wajah tak menunjang he…he…
 
Makasih Pak Pos. Salam untuk Ani dan budi. 
 
24 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2624 #30HBC26CeritaHariIni #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...