Langsung ke konten utama

22 [RELAWAN YANG DIGESER] 30 Hari Bercerita

 


Sebulan sebelum kegiatan seorang teman memberi kabar agar saya bersedia berbagi cerita tentang penulisan buku “Pemuda Inspirasi Wajah Negeri” pada acara yang akan dihadiri oleh relawan komunitas litersi tersebut. Ya, saya sanggupi. Walau kegiatan tersebut berlangsung di pulau seberang yang berjarak 10 jam perjalanan darat dan 2 jam menyeberangi lautan.
 
Sepekan sebelum kegiatan seorang panitia mengirimkan surat undangan dan menanyakan kembali kesediaan.Tidak ada yang berubah, karena sudah saya jadwalkan. Dua hari sebelum hari H panitia kembali mengingatkan sembari memberi permakluman bahwa kegiatan tidak menyediakan uang transportasi, akomodasi apalagi uang saku. Saya sambil senyum-senyum sendiri membaca kalimat akhir tersebut. Bagi sesama relawan hal itu tanpa diingatkan saya sudah maklum sejak lama. Dan beginilah bagian dari cara kami menjaga energi dan hati.
 
Nampaknya ada pergeseran makna kata “Relawan”. Baik karena tidak paham, atau memanfaatkan makna dibaliknya untuk kepentingan tertentu berbiaya murah (bahkan gratis) yang seharusnya wajib mengeluarkan logistik.
 
Secara sederhana makna relawan itu sebuah gerakan ikhlas dari kantong sendiri dan tanpa pamrih. Makin ke sini makna itu diracuni tafsir melenceng dalam dunia politik. Misal “Relawan Bung Iwan”, seharusnya mereka bergerak mandiri dengan sendirinya. Ada atau tiada suplai logistik, tetap beraktivitas. Tapi kenyataannya, ada uang kita jalan, tanpa logistik kami titik. Ini sebuah pelecehan makna relawan. Lebih baik sebut saja Tim Sukses Iwan. Apa kurang organik di jual?
 
Atau sengaja dilabeli relawan sebagai akal-akalan kandidat agar bisa menghindar diminta kontibusi alias ongkos politik oleh tim nya? Padahal memang mesin politik berbiaya atau semacam EO pemenangan. Yang namanya EO tidak ada yang gratis alias berlabel relawan Bung.
 
Saatnya mengembalikan makna suci relawan dari tangan-tangan kotor yang menodainya. Biarkan mereka berada pada garda terdepan penanggulangan masalah kemasyarakatan tanpa pamrih. Bebaskan mereka dengan gesitnya membangun masyarakat dan bangsa tanpa residu yang membuat lahir pihak-pihak menatap relawan sebelah mata.
 
Tolong jangan terus geser makna relawan menjadi kian jauh dari fitrahnya. Semangat terus buat para relawan dimana saja yang tanpa mengenal waktu, tempat dan kondisi tetap konsisten berkiprah.
 
22 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2622 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TAK CUKUP COPY, PASTE DAN SHARE JUGA] #NulisRabilulAwal

  Hidup tak sekadar puas dengan kopi ( copy ), tapi lipat gandakan kebahagiaan juga kebaikan dengan paste (tempel) dan share (berbagi) hal itu ke banyak tempat, orang dan waktu.   Ada kesenangan yang cuma dipendam dalam diri sendiri saja, padahal bisa dibagi tanpa mengurangi. Ada kebahagiaan sekecil apa itu rupanya yang tak boleh berhenti pada diri saja, perlu dilanjutkan kemana-mana. Banyak kebaikan yang kadang sepele, hanya puas untuk "aku" saja. Padahal bisa digandakan tak hingga.   Jika memasak dan aromanya hingga masuk rumah tetangga, Rasulullah saw. meminta kita melebihkan kuahnya untuk dirasakan tetangga tersebut.   Saat hati patah dan hidup penuh duri sana sini. Kenapa kita perlu senyum saat berjumpa sesama? . Maknai senyum sebagai cara praktis dan gratis bersedekah saat di uji kegagalan dan diterpa kekurangan. Sebagaimana Rasulullah saw. Bilang, senyum pada saudaramu itu sedekah.   Ah itu nampak terlalu mencari validasi atau pencitraan dalam kacamata ...

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[JEDALAH, DENGARKAN AZAN!] #NulisRabiulAwal

  “Azan bukan sekadar seruan penanda waktu salat, setelah terdengar dibiarkan berlalu. Atau terkerdilkan sebatas alarm penanda, dimatikan kemudian aktivitas dilanjutkan.” Salah satu hikmah waktu shalat lima kali sehari, di lima waktu tersebut kita perlujeda sejenak dari beragam aktivitas duniawi. Manusia bukan robot tanpa istirahat, jiwa dan raga bukan benda mati tak perlu jeda sejenak. Salah satu hal terindah adalah dapat menjawab suara azan. Bukan semata menjawab dengan mendirikan shalat yang bisa saja setelah panggilan itu berlalu beberapa waktu. Bahkan penanda jam istirahat dari rutinitas. Tapi, benar-benar menjawab azan itu dengan kalimat yang sama dengan yang terucap oleh muazin saat itu. Siapa yang menjawab panggilan azan seperti seruan muazin dari dalam hatinya, maka akan masuk surga (HR. Muslim, Abu Daud). Umar bin Khatab ra. menyampaikan sabda Rasulullah saw. itu. Siapa di antara kita yang membuang begitu saja tiket ke surga? Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. menyampaikan sab...