Langsung ke konten utama

[MENULIS KEBAIKAN DIHARGAI DIBUMI DAN DILANGIT]

“Hidup kita adalah sejarah dan karya kita yang akan mengabadikannya”. (Helvy Tiana Rosa). 

Istimewa sekali dapat belajar langsung menulis kreatif dari dua orang kakak adik yang luar biasa, Bunda Helvy Tiana Rosa dan Bunda Asma Nadia. Walau melalui live Instagram, namun tidak mengurangi isi yang disampaikan. Kesempatan itu datang kemarin sore, Kamis 7 Mei 2020. Saya baru sekali bertemu langsung dengan bunda Asma Nadia dalam sebuah acara kepenulisan di Universitas Mataram. Kalau dengan sang kakak Bunda Helvy Tiana Rosa belum pernah sama sekali. Royal Islamic Strategic Studies Center yang bertempat di Amman Yordania, membuat daftar The World’s 500 Most Influential Muslims (500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia) sejak tahun 2009. Dalam daftar 500 tokoh tersebut kedua orang ini masuk di bidang seni dan budaya. Bunda Helvy masuk daftar sejak tahun 2009 dan Bunda Asma Nadia sejak 2014 hingga sekarang.

Dalam menulis dibutuhkan hal sederhana yaitu jangan takut memulai menulis, apa saja. Dan pastikan tulisan itu selesai, jangan mengedit sambil menulis pasti tak akan selesai tulisan tersebut. Biarkan tuntas kemudian baru memperbaikinya. Menulis juga harus memiliki nafas panjang untuk mempertahankannya. Menulislah minimal satu halaman sehari, jika tidak bisa minimal setengah atau seperempat halaman. Jika tidak, minimal satu paragraf. Karena ide dan sumber tulisan membentang sepanjang waktu dan peristiwa yang dilalui setiap hari. Kata kunci untuk mempertahankan nafas panjang menulis ini ialah istiqomah.

Tulisan itu sebenarnya rekam jejak kita. Tentang apa yang kita rasakan dan alami, mengenai sesuatu yang ingin diungkapkan dan sampaikan, perihal yang ingin kita bagi dan harapkan. Tulisan yang bermanfaat ialah tulisan tentang kebaikan, yang akan menyadarkan pembaca pada kebaikan dan membuat orang melakukan kebaikan-kebaikan. “Jika engkau menulis kebaikan, maka engkau akan dihargai bukan hanya di bumi tapi juga di langit.” (Helvy Tiana Rosa).

Dalam era milenial saat ini sudah tak sulit mendapatkan sarana untuk menulis dan mempublikan tulisan. Media sosial yang begitu marak perlu diramaikan dengan tulisan-tulisan bergizi, bukan hanya sekedar sensasi tapi kering. Bagaimana dengan akun media sosial kita?, mari kita ramaikan bersama gaeys.

08052020
#IWANwahyudi
#InspirasiWajahNegeri
#EnergiRamadhan
#MariBerbagiMakna
@inspirasiwajahnegeri
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...