Langsung ke konten utama

20 [KORUPSI KEPALA DAERAH, BUKAN SALAH RAKYAT PEMILIH] 30 Hari Bercerita

 

Dalam sehari, dua kepala daerah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar pada Senin (19/1/2026). Pertama, penyidik KPK menangkap Wali Kota Madiun Maidi dalam OTT. Selanjutnya, Maidi dibawa ke Jakarta bersama 8 orang lainnya. Dan kedua, KPK menangkap Bupati Pati, Sudewo (SDW) dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Pati. Bupati Pati Sudewo Ditangkap Bersama 2 Camat dan 3 Kepala Desa.


Membaca berita itu, saya langsung teringat “syahwat” kebanyakan politisi yang ingin agar pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2029 nanti tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat, tapi kembali ke mode awal sebelum reformasi, dipilih oleh DPRD. Alasannya biaya politik tinggi dan politik uang yang membabi buta. Artinya karena rakyat lemah hingga mudah disogok dengan uang saat memilih. Juga biaya pelaksanaan pilkada yang mahal. Kok sepertinya rakyat yang dikambinghitamkan dan ditunjuk sebagai akar masalahnya.
 
Partai politiklah yang punya tiket mencalonkan pasangan kepala daerah, dinamika elit ini apakah tanpa aroma fulus alias cuan. Seandainya partai politik dan politisi itu melakukan pendidikan politik yang benar terhadap rakyat, seperti memilih pasangan calon yang baik (tidak karena isi tas, kurang isi kepala), tidak menggunakan politik uang (tanpa serangan fajar), mengajak rakyat agar tidak golput. Pastinya biaya politik pilkada tidak tinggi. Rakyat tak mungkin membeli, jika politisi tidak menjual.
 
Dua orang kepala daerah yang di OTT KPK ini belum satu tahun dilantik. Tapi kok berani dan hilang urat malu hingga ditangkap dengan dugaan korupsi tentunya? Apakah rakyat juga yang disalahkan karena memilih figur yang tuna nurani dan rakus uang haram macam ini? Oooh tidak bisa, para politisilah yang harus bertanggungjawab. Mengerti !!!
 
Jika hanya modal tangan kosong, berhenti bermimpi menjadi kepala daerah. Apalagi menggadaikan suara rakyat dengan menghapus pemilihan langsung. Saatnya berpolitik cerdas dan tuntas. Jangan setengah-setengah menyalahkan rakyat. Silahkan tunggu kepala daerah lainnya yang akan ditangkap lagi karena korupsi, pasti.


20 Januari 2026
#30HariBercerita
#30HBC2620 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[TEH HANGAT] #KulinerRamadan 04

  “Teh berasal dari Cina. Sangat nikmat diminum ketika hangat atau dingin. Minum teh tawar (tanpa gula) secara teratur dapat menurunkan kolestrol dan meredakan stres.”   Saat itu kelas 2 SMP sekolah kelas siang (masuk siang, pulang sore maksudnya). Sekolah dikampung saat musim kemarau dengan bersepeda, di Bima lagi yang terkenal ber matahari tiga saking panasnya.    Bulan sudah memasuki bulan Dzulhijjah, rumah panggung kami sepi, saya sendiri. Orang tua sedang perjalanan ke tanah suci dan adik menginap di rumah kakek, di desa tetangga. Tibalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Iduladha). Seperti biasa berkesempatan puasa sunah Arafah. Terasa berat, berangkat sekolah siang bolong ditengah terik, pulang sore dengan sisa tenaga. Menunggu Azan Magrib terasa waktu lambat, perut keroncongan. Makanan berbuka tidak ada yang dingin. Maklum di desa tidak ada yang jual es batu, saat itu satu desa bisa di hitung dengan jari yang punya lemari es. Saya putuskan berbaring u...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...