Kota-kota besar mendapat julukan kota yang tak pernah tidur.
Mereka yang orang kampung kemudian merantau ke kota besar sangat merasakan hal
tersebut. Bahkan banyak warga kota yang baru mulai beraktivitas ketika gelap
menyelimuti kota. Sedangkan siklus normal malam adalah tempat kembali pulang
untuk beristirahat. Terlepas dari label negatif aktivitas malam oleh oknum
warganya. Saya berkesimpulan semakin kehidupan tak henti berdetak, maka
produktifitas akan ikut meningkat.
Ada sebuah ungkapan, “Siang bagai singa, malam bagai rahib”. Hal ini mengandung isyarat agar tidak menyia-yiakan waktu. Optimalkan sesuai dengan porsinya. Siang dengan semangat kerja menaklukan dunia, dan malam khyusu laksana ahli agama mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Menikmati malam dengan segala keheningannya.
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak.” (HR. Bukhari).
Isya merupakan waktu awal malam, kebanyakan manusia sudah pada titik lelah dan energi sisa untuk istirahat. Dan orang munafik diselimuti rasa malas untuk enggan menunaikannya. Minimal menunda ke akhir waktu yang kemudian lolos keburu subuh.
Mengakhiri segala ibadah disunahkan menunaikan shalat Witir. “Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian shalat yaitu shalat witir. Kerjakanlah shalat witir antara shalat Isya dan shalat Shubuh.” (HR. Ahmad)
Penikmat malam sejati sebenarnya adalah mereka yang mengawali, melewati dan mengakhiri waktu itu dalam rasa ringan bersujud pada-Nya.
#30HariBercerita
#30HBC2616 #rehatiwaninspiring #rehatiwan #IWANwahyudi
@30haribercerita @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar