Salah
satu waktu yang paling ditunggu saat bulan Ramadan adalah berbuka puasa setelah
seharian menahan lapar dan dahaga. Apa saja yang tersaji dikesempatan tersebut
terasa nikmat di santap. Momen tersebut selalu dilakukan dengan buka puasa
bersama. Baik bersama keluarga, kerabat atau masyarakat umum di Masjid atau
pelaksana buka puasa bersama lainnya.
Fenomena
yang sering terjadi saat buka puasa yaitu “hipnotis” dari menu buka puasa.
Hipnotis terkait membelinya dan bagaimana menyantapnya.
Berburu
kuliner untuk berbuka puasa menjadi aktivitas yang paling ditunggu. Saat itu
akan banyak muncul para pedagang musiman yang menjual beragam makanan. Hampir
semua jenis makanan tumpah ruah mengisi lapak-lapak para pedagang, dari makanan
pembuka, makanan utama hingga penutup. Termasuk masakan daerah yang sulit
didapatkan di hari biasa.
Overspending atau Boros Belanja
Pernah
Anda merasakan tergoda membeli banyak makanan saat melihat beraneka ragam jenis
kuliner yang dijajakan menjelang berbuka puasa? Khilaf mengambil ini dan itu karena ngiler, tanpa sadar sudah melebihi kebutuhan berbuka puasa hari
itu.
Hipnotis
yang sama kemudian sering terulang. Tak terasa pengeluaran lebih banyak dan
melebihi jatah dana yang telah dialokasikan. Bagi kalangan menengah kebawah ini
akan terasa sekali, tapi bagi kaum mapan hal ini tidak masalah dari segi finansial.
Hipnotis
belanja kuliner berbuka puasa bukan masalah kurang, cukup atau berlebihnya
kemampuan keuangan seseorang. Tapi lahirnya pola konsumtif berlebihan yang
merupakan perilaku boros. Isrof (Boros) adalah berlebihan dalam
makan dan minum serta berpakaian tanpa dituntut kebutuhan.
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)
Cara
terbaik agar tidak terhipnotis belanja adalah mencatat apa yang akan dibeli dan
beli apa yang dicatat saja.
Mubazir, Banyak Sisa
Setelah
membeli makanan berbuka puasa melebihi kemampuan perut untuk menampungnya,
tentu akan berdampak pada banyaknya sisa makanan yang tidak habis. Hal mubazir , berlebihan diluar takaran
kebutuhan. Banyak makanan yang sia-sia tidak mampu dikonsumsi. Berlebih-lebihan
dalam menggunakan harta atau sumber daya.
Mengukur kemampuan
konsumsi sebelum memperturutkan daya kemauan yang tak berbatas tersebut
diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu riwayat
dalam Shahih al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
“Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (HR. Bukhari)
Rahasia
dalam setiap menakar makanan adalah dengannya dapat diketahui seberapa banyak
yang dibutuhkan dan yang harus disiapkan. Sehingga menghalangi dari sifat-sifat
berlebih-lebihan dan membuang-buang harta (mubazir).
Kekenyangan dan Tidak Produktif
Setelah
terhipnotis hingga Overspending
dan melar alias borosnya anggaran, lalu apalagi yang akan terjadi kelanjutan
dari hal itu? Berbuka puasa terlalu banyak hingga kekenyangan. Padahal buka
puasa baru pembuka dari ibadah panjang di malam bulan Ramadan.
Jika sudah kekenyangan
akan timbuk kantuk dan terbitlah malas melakukan ibadah-ibadah yang pada bulan
Ramadan dilipatgandakan pahala, bahkan ibadah tersebut hanya ada di bulan mulia
itu. Niat awal ingin gaspol, apa daya
produktifitas nol.
“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31)
Efek lain
dari berlebihan atau kekenyangan makan dan minum ini, Ibnu Katsir menyampaikan,
“Janganlah berlebihan dalam makan, sebab akan bisa membahayakan bagi akal dan
badan.”
Sebuah
tips agar tidak kekenyangan sebenarnya telah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan. Dari Miqdam bin Ma’di
Yakrib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi
bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam
mengisi sebuah bejana yang lebih buruk daripada perut, cukuplah
bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya,
dan jika mesti dilakukan maka hendaklah dia mengambil sepertiga untuk
makanannya dan sepertiga untuk minumannya serta sepertiga untuk nafasnya”
(HR. Turmudzi)
Buka puasa ajang berburu berkah, bukan melampias serakah. Waktu memungut sebanyaknya pahala, tak larut turuti nafsu yang membuat terlena.
#JelajahRamadan #74HariMenujuRamadan #90HariMenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar