Langsung ke konten utama

[TERHIPNOTIS KULINER BUKA PUASA] 74 Hari Menuju Ramadan

 


Salah satu waktu yang paling ditunggu saat bulan Ramadan adalah berbuka puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Apa saja yang tersaji dikesempatan tersebut terasa nikmat di santap. Momen tersebut selalu dilakukan dengan buka puasa bersama. Baik bersama keluarga, kerabat atau masyarakat umum di Masjid atau pelaksana buka puasa bersama lainnya.

Fenomena yang sering terjadi saat buka puasa yaitu “hipnotis” dari menu buka puasa. Hipnotis terkait membelinya dan bagaimana menyantapnya.

Berburu kuliner untuk berbuka puasa menjadi aktivitas yang paling ditunggu. Saat itu akan banyak muncul para pedagang musiman yang menjual beragam makanan. Hampir semua jenis makanan tumpah ruah mengisi lapak-lapak para pedagang, dari makanan pembuka, makanan utama hingga penutup. Termasuk masakan daerah yang sulit didapatkan di hari biasa.

 

Overspending atau Boros Belanja

Pernah Anda merasakan tergoda membeli banyak makanan saat melihat beraneka ragam jenis kuliner yang dijajakan menjelang berbuka puasa? Khilaf mengambil ini dan itu karena ngiler, tanpa sadar sudah melebihi kebutuhan berbuka puasa hari itu.

Hipnotis yang sama kemudian sering terulang. Tak terasa pengeluaran lebih banyak dan melebihi jatah dana yang telah dialokasikan. Bagi kalangan menengah kebawah ini akan terasa sekali, tapi bagi kaum mapan hal ini tidak masalah dari segi finansial.

Hipnotis belanja kuliner berbuka puasa bukan masalah kurang, cukup atau berlebihnya kemampuan keuangan seseorang. Tapi lahirnya pola konsumtif berlebihan yang merupakan perilaku boros. Isrof (Boros) adalah berlebihan dalam makan dan minum serta berpakaian tanpa dituntut kebutuhan.

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27)

Cara terbaik agar tidak terhipnotis belanja adalah mencatat apa yang akan dibeli dan beli apa yang dicatat saja.

 

Mubazir, Banyak Sisa

Setelah membeli makanan berbuka puasa melebihi kemampuan perut untuk menampungnya, tentu akan berdampak pada banyaknya sisa makanan yang tidak habis. Hal mubazir , berlebihan diluar takaran kebutuhan. Banyak makanan yang sia-sia tidak mampu dikonsumsi. Berlebih-lebihan dalam menggunakan harta atau sumber daya.

Mengukur kemampuan konsumsi sebelum memperturutkan daya kemauan yang tak berbatas tersebut diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Suatu riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

“Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (HR. Bukhari)

Rahasia dalam setiap menakar makanan adalah dengannya dapat diketahui seberapa banyak yang dibutuhkan dan yang harus disiapkan. Sehingga menghalangi dari sifat-sifat berlebih-lebihan dan membuang-buang harta (mubazir).

 

Kekenyangan dan Tidak Produktif

Setelah terhipnotis hingga Overspending dan melar alias borosnya anggaran, lalu apalagi yang akan terjadi kelanjutan dari hal itu? Berbuka puasa terlalu banyak hingga kekenyangan. Padahal buka puasa baru pembuka dari ibadah panjang di malam bulan Ramadan.

Jika sudah kekenyangan akan timbuk kantuk dan terbitlah malas melakukan ibadah-ibadah yang pada bulan Ramadan dilipatgandakan pahala, bahkan ibadah tersebut hanya ada di bulan mulia itu. Niat awal ingin gaspol, apa daya produktifitas nol.

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31)

Efek lain dari berlebihan atau kekenyangan makan dan minum ini, Ibnu Katsir menyampaikan, “Janganlah berlebihan dalam makan, sebab akan bisa membahayakan bagi akal dan badan.”

Sebuah tips agar tidak kekenyangan sebenarnya telah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan. Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib Radhiyallahu anhu bahwa Nabi bersabda, “Tidaklah seorang anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk daripada  perut,  cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika mesti dilakukan maka hendaklah dia mengambil sepertiga untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya serta sepertiga untuk nafasnya” (HR. Turmudzi)

Buka puasa ajang berburu berkah, bukan melampias  serakah. Waktu memungut sebanyaknya pahala, tak larut turuti nafsu yang membuat terlena.

Cordova A-03, 5 Desember 2025
#JelajahRamadan #74HariMenujuRamadan #90HariMenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[TEH HANGAT] #KulinerRamadan 04

  “Teh berasal dari Cina. Sangat nikmat diminum ketika hangat atau dingin. Minum teh tawar (tanpa gula) secara teratur dapat menurunkan kolestrol dan meredakan stres.”   Saat itu kelas 2 SMP sekolah kelas siang (masuk siang, pulang sore maksudnya). Sekolah dikampung saat musim kemarau dengan bersepeda, di Bima lagi yang terkenal ber matahari tiga saking panasnya.    Bulan sudah memasuki bulan Dzulhijjah, rumah panggung kami sepi, saya sendiri. Orang tua sedang perjalanan ke tanah suci dan adik menginap di rumah kakek, di desa tetangga. Tibalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Iduladha). Seperti biasa berkesempatan puasa sunah Arafah. Terasa berat, berangkat sekolah siang bolong ditengah terik, pulang sore dengan sisa tenaga. Menunggu Azan Magrib terasa waktu lambat, perut keroncongan. Makanan berbuka tidak ada yang dingin. Maklum di desa tidak ada yang jual es batu, saat itu satu desa bisa di hitung dengan jari yang punya lemari es. Saya putuskan berbaring u...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...