Langsung ke konten utama

24 [DIALOG DUA BUKU] Gerimis Desember

 


Suatu pagi di tengah suara rintik hujan yang awet di bulan Desember. Dua buah buku yang baru bertemu di sudut perpustakaan daerah dengan ditemani secangkir kopi saling menyapa.
 
A: Hai Bro baru sampai ya?
B: Iya, baru keluar dari percetakan langsung diantar oleh penerbit ke sini. Kamu, sudah lama tiba Bro?
A: Baru beberapa hari ini. Penerbit saya agak malas. ISBN keluar bulan September, baru bulan Desember diantar kemari.
B: Wah selow sekali kalian. Biasanya yang seperti itu pasti proyek pemerintah. Semua seakan adu cepat dengan tutup buku bulan Desember.
A: Benar banget Bro. Yang penting tidak melanggar aturan dan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Kemarin ada yang lebih dulu sampai dari kita sampe sini, tapi langsung dibungkus kembali dan entah dibawa kemana. Katanya isi bukunya plagiat dari karya orang lain.
B: Busyet, ada juga ya begituan sampai ke sini. Tidak tau malu, sudah ambil isi kepala orang, terus seenak perutnya ngaku karya dia. Semoga yang berwenang bersikap tegas dan ada proses hukumnya. Biar jera para perampok intelektual itu.
A: Semoga aja Bro, bisanya yang begituan menguap di tengah jalan. Kasihan para penulis yang benar-benar berproses dan mencurahkan pikirannya untuk lahirnya sebuah buku. Tidak semua orang mampu.
B: Selain itu mudah-mudahan pengunjung perpustakaan ini juga ramai dan banyak yang bersua dengan kita pada tahun 2026 nanti.
A: Yes….
 
Kelahiran sebuah buku tak semudah membalikan telapak tangan, atau secepat copy paste begitu saja sebagaiman kecepatan bertanya pada AI (artificial intelligence). Ada proses yang juga tidak kalah bernilainya bagi para penulis.
 
24 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_24 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[HAPPY MONDAY]

  Setelah libur akhir pekan biasanya membuat sebagian diantara kita enggan untuk bertemu dengan hari Senin (MONDAY), yang artinya akan bertemu kembali dengan rutinitas, kerja, kuliah, sekolah, tugas dan sebagainya. Tak heran bila sebagian menyebutnya I Hate Monday. Bagaimana caranya agar mengahadapi hari Senin dengan senyuman dan langkah bahagia? Bertemu Senin tentunya kita memiliki persiapan yang lebih panjang dibanding hari lainnya karena ada Weekend sebelumnya. Siapkan rencana dengan matang, buat jadwal kerja yang nyaman dan menyenangkan. Jadwal akan membuat pekerjaan lebih sistematis dan pemenuhan target sesuai dengan prioritas. Hal ini juga dapat mengurangi beban dan tekanan kerja. Penuhi hati dengan optimisme, gimana? Tanamkan bahwa hari Senin adalah kembalinya kita bertemu dengan orang-orang yg kita cintai dan menyayangi kita di tempat kerja dan lainnya. Ia adalah lembaran baru diawal pekan sehingga harus memiliki pesona warna dan rasa yang dapat bertahan selama sepekan. Stu...

[TEH HANGAT] #KulinerRamadan 04

  “Teh berasal dari Cina. Sangat nikmat diminum ketika hangat atau dingin. Minum teh tawar (tanpa gula) secara teratur dapat menurunkan kolestrol dan meredakan stres.”   Saat itu kelas 2 SMP sekolah kelas siang (masuk siang, pulang sore maksudnya). Sekolah dikampung saat musim kemarau dengan bersepeda, di Bima lagi yang terkenal ber matahari tiga saking panasnya.    Bulan sudah memasuki bulan Dzulhijjah, rumah panggung kami sepi, saya sendiri. Orang tua sedang perjalanan ke tanah suci dan adik menginap di rumah kakek, di desa tetangga. Tibalah hari Arafah, 9 Dzulhijjah (sehari sebelum Iduladha). Seperti biasa berkesempatan puasa sunah Arafah. Terasa berat, berangkat sekolah siang bolong ditengah terik, pulang sore dengan sisa tenaga. Menunggu Azan Magrib terasa waktu lambat, perut keroncongan. Makanan berbuka tidak ada yang dingin. Maklum di desa tidak ada yang jual es batu, saat itu satu desa bisa di hitung dengan jari yang punya lemari es. Saya putuskan berbaring u...

[PERJUMPAAN dan MATA PELAJARAN KEHIDUPAN]

  Bila merunut hitungan Pak Lukman Kananga Sila (foto paling kiri) guru matematika ini saya juga kaget. Ternyata sudah 19 tahun kami tidak berjumpa tatap muka. Walau di media sosial sesekali saling menyapa. Menjadi guru itu tetap selalu menguntungkan dunia akhirat menurut saya. Bayangkan setiap hari (kecuali hari libur) mendapat kesempatan emas masuk kelas mengajarkan ilmu bagi para siswa. Bukankah ilmu yang bermanfaat amal jariyah yang tak pernah putus walau yang bersangkutan telah tiada. Yah, selain sisi itu tetap masih terdengar kisah para guru yang belum mendapatkan haknya untuk hidup layak sebanding dengan beban mencerdaskan kehidupan bangsa yang tak lagi ringan dewasa ini. Berjumpa kembali pula dengan Bang Heriyanto (foto tengah) yang hingga sekarang tak berubah kepekaannya pada ketidakadilan dan paradoks yang menjadi realitas rakyat. Energi aktivismenya sejak di kampus dulu tak hilang, bahkan kian menyala aja. Hal terberat selain melawan (menguasai) diri sendiri ad...