Langsung ke konten utama

16 [LAWAN PLAGIARISME] Gerimis Desember

 


Hari itu Senin 17 Februari 2014 Anggito Abimanyu (sekarang Wakil Menteri Keuangan RI) menggelar jumpa pers dan menyatakan diri mundur (bukan dipecat) sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Apa sebab? Tulisan Anggito pada opini harian Kompas tanggal 10 Februari 2014 berjudul “Gagasan Asuransi Bencana” dituding plagiarisme dari tulisan Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan dengan judul “Mengagas Asuransi Bencana” yang dimuat pada koran yang sama pada 21 Juli 2006.

Anggito mengaku keliru mencantumkan referensi dalam karya tulisnya, khilaf dan minta maaf. Kok sampai mundur segala? “Demi mempertahankan kredibilitas UGM, dengan nilai-nilai kejujuran, integritas dan tanggungjawab akademik, saya telah menyampaikan mundur sebagai dosen.” (Anataranews.com, 17/02/2014)

Plagiarisme atau penjiplakan adalah pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Bayangkan anda tidak berbuat apa-apa kemudian mengambil isi kepala orang lain, dan mengklaim itu isi kepala anda yang kosong dan jahat. Sungguh amoral sekali. Apalagi pelakunya pejabat negara dan akademisi/kaum intelektual.

Jantannya Anggito langsung mengakui hal tersebut dan mengundurkan diri dari dosen sebagai tanggungjawab moral. Padahal itu sekelas tulisan opini di koran. Bagaimana jika yang dijiplak adalah skripsi, thesis, disertasi, buku dan karya ilmiah? Tentu harus lebih besar lagi tanggungjawab moralnya.

Lawan plagiarisme karena akan melahirkan anak-anak bangsa yang kerdil dan tak memiliki integritas serta amoral.

16 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_16 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

123 [NIRU AFI]

  Masa SMP, saya habiskan di kampung. Suasana desa di mana depan rumah kaki gunung dan belakang rumah sawah yang membentang. Burung berkicau, ayam berkokok, kambing mengembik, sapi dan kerbau melenguh hingga anjing yang melolong pada malam hari menjadi melodi alam yang secara gratis terekam di telinga. Bila musim kemarau, siang sangat terik hingga dijuluki negeri lima matahari dan kala malam tiba dinginnya tak terkira hingga 15 derajat. Dingin macam ini menjadi tantangan bagi anak dan remaja yang sekolah pagi. Melawan suhu demikian tak mudah, apalagi mandi pagi di sumur umum tanpa air panas. Melawan dingin tak sampai di situ. Perjalanan ke sekolah jangan dibayangkan dengan angkutan umum dan mobil pribadi. Kami harus menempuh jarak berkilometer melewati beberapa desa dengan berjalan kaki atau bersepeda. Menembus kabut, menahan dingin dan memastikan tapak kaki melangkah atau mengayuh asa. Pemandangan pagi di desa biasanya ditutupi kabut atau asap, ketika matahari mulai muncul d...

Salam Pagi 127

  Assalamu’alaikum Pagi “ Setiap perilaku akan kembali pada pelakunya, baik itu penghinaan, keburukan apalagi kebaikan . Jangan lelah berbuat kebaikan walau belum terasa efeknya seketika itu pula.” Seberapa keji penghinaan yang pernah engkau terima? Mungkin tak sebanding dengan yang telah dirasakan   oleh pendahulumu dijalan kebaikan yang sama-sama engkau tebar dan lanjutkan saat ini. Seberapa nista keburukan yang engkau terima hari ini? Mungkin tak seberapa dibanding mereka yang telah berkorban menyerukan kebaikan, hingga kini engkau dan semua orang merasakan indahnya. Seberapa sering dan besar kebaikan yang engkau telah lakukan? Tak perlu menghitung, membandingkan atau mengingatnya. Karena cepat atau lambat akan kembali padamu. Jika menghitungnya engkau akan merasa besar, bila membandingkan engkau bisa sombong dan saat selalu mengingatnya bisa saja keikhlasanmu tergerus. Tetaplah disini bersama kebaikan dan orang-orang baik. Tetaplah menanam dan memeliharanya agar ...