Langsung ke konten utama

14 [MENGINTIP DARI GUNTINGAN KORAN] Gerimis Desember

 


Generasi 2000an dan sebelumnya salah satu akses mendapatkan informasi yang lengkap dan murah adalah melalui media cetak. Walau kalah cepat dengan radio dan televisi, tapi memudahkan cara mendokumentasikan dan mengarsipkannya. Kala itu mahal sekali bahkan selain jurnalis dan kaum tajir, tidak ada yang memiliki alat perekam. Intinya media cetak murah dan mudah.

Jangan heran jika manusia zaman itu gemar menggunting koran, majalah atau buletin. Selain informasi pastinya poster ukuran besar idola bisa didapatkan dan ditempel pada dinding kamar. Setelah tahun berganti dan masa berubah, jika dilihat kembali guntingan-guntingan informasi itu, kita dapat mengintip banyak hal. Peristiwa dan nostalgia dengan segala fakta yang direkam oleh para pewarta dengan tingkat ketelitian tinggi. Salah tulis, tak bisa seketika meralatnya. Menunggu edisi terbit berikutnya.

Perguntingan media cetak itu, saya kenal dengan istilah Kliping. Kliping adalah kumpulan potongan informasi (artikel, gambar, berita) dari berbagai media cetak, yang digunting, disusun, dan ditempelkan secara tematis pada media tertentu (kertas, buku) untuk pengarsipan, referensi atau penyajian informasi yang menarik.

Saat ini mudah mengarsipkan tulisan dan berita di media, cukup foto atau  screenshot, selesai. Bahkan cukup dengan salin link nya saja. Dan itu menjadi cara mudah dikemudian hari untuk mengintip kembali segala yang telah terlewati.

 "Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai ke akar-akarnya. Sayang sekali, pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.“ (Pramodya Ananta Toer)

14 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_14 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...