Generasi 2000an dan sebelumnya salah satu akses
mendapatkan informasi yang lengkap dan murah adalah melalui media cetak. Walau kalah
cepat dengan radio dan televisi, tapi memudahkan cara mendokumentasikan dan
mengarsipkannya. Kala itu mahal sekali bahkan selain jurnalis dan kaum tajir, tidak
ada yang memiliki alat perekam. Intinya media cetak murah dan mudah.
Jangan heran jika manusia zaman itu gemar menggunting koran, majalah atau buletin. Selain informasi pastinya poster ukuran besar idola bisa didapatkan dan ditempel pada dinding kamar. Setelah tahun berganti dan masa berubah, jika dilihat kembali guntingan-guntingan informasi itu, kita dapat mengintip banyak hal. Peristiwa dan nostalgia dengan segala fakta yang direkam oleh para pewarta dengan tingkat ketelitian tinggi. Salah tulis, tak bisa seketika meralatnya. Menunggu edisi terbit berikutnya.
Perguntingan media cetak itu, saya kenal dengan istilah Kliping. Kliping adalah kumpulan potongan informasi (artikel, gambar, berita) dari berbagai media cetak, yang digunting, disusun, dan ditempelkan secara tematis pada media tertentu (kertas, buku) untuk pengarsipan, referensi atau penyajian informasi yang menarik.
Saat ini mudah mengarsipkan tulisan dan berita di
media, cukup foto atau screenshot, selesai. Bahkan cukup dengan
salin link nya saja. Dan itu menjadi
cara mudah dikemudian hari untuk mengintip kembali segala yang telah terlewati.
"Andai anak-anak remaja itu punya kebiasaan mengkliping, pastilah mereka tak bisa dibohongi karena tahu masalah sampai ke akar-akarnya. Sayang sekali, pendidikan Indonesia tak pernah mendidik muridnya tekun menggali fakta.“ (Pramodya Ananta Toer)
14 Desember 2025
#gerimis30hari
#gerimis_des25_14 #rehatiwaninspiring #rehatiwan
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar