Langsung ke konten utama

[KALAH OLEH SIKLUS: MENDADAK, TERENGAH, TANPA RASA] 91 Hari Menuju Ramadan

 


Kebanyakan kita kalah oleh siklus. Sesuatu yang berulang, dapat diprediksi dan kondisi yang sama. Logikanya bisa lebih siap, segera tanggap dan tak mengulangi kegagalan serupa. Contoh musim penghujan, siklus tahunan selalu saja ada banjir dengan sebab dan kendala yang sama. Pasti ada antisipasi lebih tiap tahunnya.

Kemuliaan Ramadan bukan hanya karena ia bulan mulia dan harus dimuliakan, ia juga membawa kemuliaan yang tak terhingga dibagikan pada semesta bagi semua yang bekerja dan beramal meraihnya. Tak jarang di penghujung Ramadan terbersit penyesalan, amal Ramadan cuma sekedar bahkan bolong-bolong. Kuantitasnya kurang, kualitasnya sulit dirasakan. Bahkan tanpa rasa penyesalan.

Ramadan tamu mulia yang pandai memuliakan mereka dengan amal unggulan. Bukan sekedar seremonial. Kunjungannya 30 hari bahkan kurang, dengan masa persiapan 335 hari dan yang tersisa gembira sehari  saat lebaran. Jangan ulangi Ramadan kali ini masuk mendadak, melalui terengah-engah dan keluar tanpa rasa. Ini siklus.

Kita butuhkan banyak pengantar agar Ramadan lebih terasa sejak sekarang dengan berbagai pemanasan. Dari menjiwakan Ramadan di hati, menjalarkan dalam syaraf-syaraf rasa, emosi, pikiran dan iman, menyulutkan dengan gairah juga amal yang bertambah.

Saatnya menyicil sejak sekarang, jangan tunggu nanti karena hal itu yang selalu mengulang kegagalan bersama Ramadan. Mulai hari ini pikirkan dan persiapkan Ramadan. Yang sudah-sudah kita percaya diri satu dua pekan sebelum bulan itu menyapa, toh tidak optimal juga ber-Ramadan.

Hingga kita khusyu berdoa, “ Ya Allah, selamatkan aku untuk Ramadan dan selamatkan Ramadan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku.” (HR. Thabrani dan Dailami) dan “ Ya, Allah sampaikan kami pada Ramadan kembali.

Ramadan 91 hari lagi. Semoga tak terulang lagi siklus yang serupa tahun 1447/2026 ini.
 
Cordova A-03, 19 November 2025
#JelajahRamadan #91HariMenujuRamadan #90HariMenujuRamadan #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #MariBerbagiMakna @rehatiwan @rehatiwanInspiring


Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...