Langsung ke konten utama

SALAM 187

 


Assalamu’alaikum Pagi

Pagi ini Anda pikirkan betapa bahagianya gajian pada tanggal muda. Uang yang akan digunakan selama sebulan ke depan sudah digenggaman. Walau itu hanya numpang mampir untuk kemudian dialokasikan pada pos-pos belanja hingga habis.

 

Anda bahagia pada tanggal muda karena keyakinan akan menerima gaji, rasa beruntung mendapat kompensasi dari kerja, terangkat beban tuntutan belanja kebutuhan sebulan kedepan, ada jaminan terealisasi daftar perencanaan dengan uang yang sudah cair.

 

Level bahagia Anda akan berbeda saat akhir bulan, makin redup, cemberut bahkan emosi sesekali lepas kontrol. Anda melihat kebutuhan dua tiga hari tanggal tua dengan kacamata satu bulan. Ibarat makan satu hari, tapi yang terbayang beban tagihan makan selama 30 hari.

 

Mulai pagi ini coba ubah cara berpikir Anda dengan anggaran hidup selama 24 jam saja. Pecah kebutuhan dengan angka rupiah menjadi harian. Menyederhanakan (bukan mengabaikan) ini yang membuat mereka yang tidak gajian atau dapat amplop bulanan selalu bahagia setiap hari. Hidup mereka tidak digantungkan dengan hitungan bulanan,kebahagiaan mereka tidak menjadi momen sekali diawal bulan. Tapi, bahagia dan syukur harian.

 

Anda harus yakin bahwa rezeki tidak hanya datang sekali sebulan, ia bisa tiap hari, jam bahkan detik. Dan tak akan tertukar dan salah takar Allah mengaturnya.

 

“Tidak ada satu pun binatang melata di muka bumi ini, kecuali Allah yang menanggung(menjamin) rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)”. (QS. Hud: 6)

 

https://rehatiwan.blogspot.com/2025/10/salam-187.html

 

#HappyDay 014 #AssalamualikumPagi #reHATIwan #InspirasiWajahNegeri #MariBebagiMakna #MemungutKataKata #Bahagia  #rezeki  #taktertukar #Pagi #Syukur #gajian
@inspirasiwajahnegeri
@rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[KESANTUNAN HARMONI ALAM]

Bentang alam yang luas tak kering menjadi mata air pembelajaran, semesta yang membentang tak lelah selalu memberikan hentakan-hentakan kesadaran betapa keanekaragaman yang begitu berwarna adalah sebuah harmoni yang tak saling meniadakan komponen-komponen didalamnya. Semakin tak terhitungnya oleh kita jumlah kebhinekaan jagad raya ini, mereka selalu dinamis tanpa riuh gemuruh yang membisingkan kehidupan sesamanya. Awan hitam tak meniadakan matahari, rintik hujan tidak menghilangkan awan mendung, indah pelangi tak menafikan rintik hujan dan cahaya mentari, warna-warna pelangi tak satupun menindis menutupi salah satunya. Kita tak jarang hanya terjebak sekedar kesadaran indrawi. Kesadaran akibat sensasi Indra yang tentu sangat terbatas.  Saatnya kita belajar untuk menembus dan menghadirkan kesadaran jiwa dan keinsyafan hati yang lebih dalam dan tak terbatas. Saat melihat indah pelangi saksikan pula rangkaian peristiwa alam yang begitu santun dan harmoni telah mengantarkan p...

150 [PELANGI BULAN JUNI]

  “Jadikan amal terbaik kado terindah setiap harinya” #reHATIwan Sapardi Djoko Damono menjadikan “Hujan Bulan Juni” abadi dengan puisi. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni Dihapusnya jejak-jejak kakinya Yang ragu-ragu di jalan itu Jamrud dalam lagu “Pelangi Di Matamu” menjadikan diri lebih berani mengungkap kejujuran. Ada pelangi di bola matamu Dan memaksa diri tuk bilang, “Aku sayang padamu” Juni ini saya tak hanya berjumpa dengan @gerimis30hari sebagai agenda konten media sosial. Tapi salah satu pintu menyulam kata dan menebar makna kebaikan selama 30 hari. Juni ini saya tak cuma bersua dengan hujan “Sapardi” di tengah kemarau. Juga jejaknya meresap dalam kesejukan pada semua makhluk. Juni ini saya bertemu dengan hujan yang dalam rintiknya, rahmat-Nya dari langit turun untuk bumi, dan lirih doa bumi didengar langit. Juni ini saya menikmati pelangi, bukan hanya lewat pandangan mata semata. Namun melalui kebaikan-kebaikan kecil pada sesama dan semesta yan...