Assalamu’alaikum Pagi
“Pagi hari kebanyakan energi tersita untuk membuka dan membaca media sosial. Saatnya membalikan keadaan dengan melepas pikiran dan perasaan positif dalam postingan media sosial kita.”
Dalam sebuah zoomeet Ustadz Roni Haldi Alimi menceritakan kapan biasanya ia menulis, hingga produktif sekali membaginya di media sosial juga menerbitkan dalam bentuk buku.
Seperti kebanyakan orang dengan aktivitas pagi yang padat. Mulai dari bangun pagi, shalat subuh, bersih-bersih, sarapan, persiapan perlengkapan hingga mengantar anak ke sekolah. Dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah kemudian ke kantornya, ia coba berdialog dengan hati kemudian bercakap dengan pikiran tentang apa yang akan ditulisnya. Bisa saja dari keriuhan pagi dengan lalu lalangnya manusia, atau apa yang dibacanya semalam. Bahkan dari sisa-sisa kenangan yang dilalui kemarin, juga ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca selepas shalat malam.
Setiba di kantor, setelah absen, ia menuju meja kerja dengan ruangan masih sepi karena waktu aktif belum dimulai. Di waktu inilah ia mengetik, merangkum apa hasil kontempelasinya dengan hati dan pikirannya tadi kedalam kalimat-kalimat. Setiap lintasan kebaikan akan berlalu begitu saja, bahkan lupa dan sulit ditarik kembali jika tak dicatat. Inspirasi dan perenungan itu hanya akan dinikmati sendiri bila tidak dibagikan pada orang lain. Minimal melalui media sosial.
Hal serupa sebenarnya tak hanya dilakukan oleh sosok yang menjadi penghulu di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya ini saja. Para Imam mahzab dan ulama terdahulu banyak menghabiskan malam selain dengan shalat juga menuliskan fatwa menjawab permasalahan umat. Para ilmuwan muslim juga demikian dengan teori dan temuannya. Saya memberi contoh sosok ini, agar tak ada alasan dalam diri untuk urung menulis.
“Ah, mereka para ulama, kita siapa sih?”,
“Lah, orang-orang itu kan ilmuwan, ya jelas harus menulis dan membukukan karya dan temuannya. Kita cuma orang biasa?”
Pagi hari dengan udara yang masih bersih, pikiran belum tersesaki berbagai masalah dan fisik yang segar usai istirahat, adalan waktu yang lebih banyak koneksi di otak — sebuah elemen kunci untuk menghadirkan proses kreatif. Maka aktivitas menulis yang sangat banyak memerlukan proses kreatif, tepat dilakukan pagi hari..
Ketenangan di pagi hari dan ruang sunyi diwaktu subuh mengurangi gangguan yang biasanya mengganggu fokus, hingga konsentrasi menjadi lebih baik.
Tubuh yang segar dan baterai semangat masih full belum tersedot oleh beban aktivitas harian akan membuat diri mengeluarkan energi positif dan kreatif lebih cepat.
“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” (Jika Anda menunggu inspirasi untuk menulis, Anda bukanlah seorang penulis, Anda adalah seorang pelayan) –Dan Poynter
Nah,
bagaimana dengan kita? Setidaknya selain cuma hobi skrol media sosial dan hanya
menyerap isinya yang sedikit banyak menguras waktu dan perasaan, saatnya kita
sendiri melepas energi kebaikan dengan postingan positif. Mudah dan singkat
kan?
@inspirasiwajahnegeri
@rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar