Langsung ke konten utama

201 [HIDUP ADALAH PINJAMAN]



“Bila sesuatu yang dipinjamkan dipergunakan tidak semestinya dan dikembalikan tidak baik-baik saja, tentu rasa kecewa dan marah tak bisa dipungkiri dari pemiliknya."

Saya pernah beberapa kali menjumpai motor dinas, berplat merah tentunya lalu lalang dengan kondisi tidak terawat, plat nomor sudah kadaluarsa alias nunggak pajak dan nyaris pudar warna merahnya, dibawa oleh oknum orang tak berpakaian dinas, diluar jam kerja pula. Ditambah tak menggunakan helm.

Apa memori kepala si pengendara itu hilang sebagian ya? Motor yang ditungganginya itu cuma pinjaman dari negara dari pajak rakyat untuk menunjang kerja dinas pelayanannya. Bukan sebagai alat gaya dan pamer kesombongan. Apa lagi kemudian ingin memiliki seutuhnya.

Anda pernah meminjamkan uang pada seseorang? Saat peminjam datang memelas dan mengiba sebagai jurus rayuannya yang meluluhkan hati. Tapi, pada waktu jatuh tempo pengembalian pura-pura lupa bahkan membuat capek menagihnya. Dasar oknum manusia, tak berhati, balas budi dan pendek memori.

Dengan barang pinjaman sesama manusia saja begitu perilakunya, bagaimana dengan hidup kita secara keseluruhan yang merupakan pinjaman dari-Nya?

Syaih Abdul Qadir Jailani pernah memberi nasehat:

“Jangan engkau tertipu dengan pinjaman, Engkau menyangkanya bahwa ia adalah milikmu selamanya. Padahal, pada waktu yang tidak terlalu lama, pinjaman itu akan diambil kembali oleh pemiliknya darimu.

Allah Azza wa Jalla telah meminjamkan kehidupan kepadamu, supaya engkau mentaati-Nya, tapi engkau menyangka kehidupan itu milikmu, lalu engkau beramal sekehendaknya. Sesungguhnya suatu hari nanti engkau pasti dituntut dan ditanya tentangnya.”

Jangan amnesia dengan pinjaman. Rawat dan jaga, pergunakan dengan benar dan kembalikan dengan baik.

Cordova Street A-03, 25 Juni 2025
#MariBerbagiMakna #reHATIwan #reHATIwanInspiring #MemungutKataKata #Gerimis30Hari #Gerimis_Juni25_25 #IWANwahyudi
@gerimis30hari @ellunarpublish_ @rehatiwan @rehatiwaninspiring 
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[TAK CUKUP COPY, PASTE DAN SHARE JUGA] #NulisRabilulAwal

  Hidup tak sekadar puas dengan kopi ( copy ), tapi lipat gandakan kebahagiaan juga kebaikan dengan paste (tempel) dan share (berbagi) hal itu ke banyak tempat, orang dan waktu.   Ada kesenangan yang cuma dipendam dalam diri sendiri saja, padahal bisa dibagi tanpa mengurangi. Ada kebahagiaan sekecil apa itu rupanya yang tak boleh berhenti pada diri saja, perlu dilanjutkan kemana-mana. Banyak kebaikan yang kadang sepele, hanya puas untuk "aku" saja. Padahal bisa digandakan tak hingga.   Jika memasak dan aromanya hingga masuk rumah tetangga, Rasulullah saw. meminta kita melebihkan kuahnya untuk dirasakan tetangga tersebut.   Saat hati patah dan hidup penuh duri sana sini. Kenapa kita perlu senyum saat berjumpa sesama? . Maknai senyum sebagai cara praktis dan gratis bersedekah saat di uji kegagalan dan diterpa kekurangan. Sebagaimana Rasulullah saw. Bilang, senyum pada saudaramu itu sedekah.   Ah itu nampak terlalu mencari validasi atau pencitraan dalam kacamata ...

[JADILAH TELAGA]

Saya mengenal telaga sebagai sumur yang digali disawah tempat petani mengambil air menyirami tanaman-tanamannya. Selain tanaman kadang juga air telaga digunakan untuk minum bintang ternak. Pada umumnya (di kampung saya Bima NTB) telaga ada yang berair keruh dan jernih. Telaga jernih juga biasa diminum oleh petani.  Walaupun definisi telaga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) cukup banyak, tapi saya memaknainya dengan apa yang saya lihat dan penamaan masyarakat Bima terhadap sumur di sawah. Karena jika kata telaga itu diucap maka memori dikepala saya akan tersambung pada hal itu.  Telaga kini sudah kian langka terganti dengan sumur bor yang dapat mencari mata air jauh lebih dalam dan besar. Dan tentu mengambil air nya sudah menggunakan mesin air diesel. Dulu biasanya menggunakan timba atau tempat yang terbuat dari seng/kaleng dengan dipikul turun naik tangga kedalam telaga.  Telaga bersumber dari mata air yang ada disaw...

[JEDALAH, DENGARKAN AZAN!] #NulisRabiulAwal

  “Azan bukan sekadar seruan penanda waktu salat, setelah terdengar dibiarkan berlalu. Atau terkerdilkan sebatas alarm penanda, dimatikan kemudian aktivitas dilanjutkan.” Salah satu hikmah waktu shalat lima kali sehari, di lima waktu tersebut kita perlujeda sejenak dari beragam aktivitas duniawi. Manusia bukan robot tanpa istirahat, jiwa dan raga bukan benda mati tak perlu jeda sejenak. Salah satu hal terindah adalah dapat menjawab suara azan. Bukan semata menjawab dengan mendirikan shalat yang bisa saja setelah panggilan itu berlalu beberapa waktu. Bahkan penanda jam istirahat dari rutinitas. Tapi, benar-benar menjawab azan itu dengan kalimat yang sama dengan yang terucap oleh muazin saat itu. Siapa yang menjawab panggilan azan seperti seruan muazin dari dalam hatinya, maka akan masuk surga (HR. Muslim, Abu Daud). Umar bin Khatab ra. menyampaikan sabda Rasulullah saw. itu. Siapa di antara kita yang membuang begitu saja tiket ke surga? Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. menyampaikan sab...