Langsung ke konten utama

172 [ADA YANG JINGGA, TAPI BUKAN SENJA]

Pesona jingga pada hamparan langit hanya hadir pada dua waktu, pagi dan senja. Namun, sebagian kadang lebih mengidentikan jingga hanya milik senja.

Jingga di pagi hari hanya diburu sebagian orang, seperti pendaki gunung yang mengejar sunrise di puncak gunung. Atau mereka yang bangun lebih awal dan mulai menembus pagi. Sama hal nya dengan saya pagi ini, sekadar jogging ringan dan mengabadikan jingga.

Perihal jingga ini menggambarkan juga sifat manusia, yang sering hanya menilai di ujung saja. Mengomentari sesuatu dalam sudut sempit di akhir. Padahal titik akhir adalah akumulasi dari titik awal dan segala proses yang dialami. 

Dalam agama Islam, memandang semua dengan lebih lengkap dan utuh. Diawal kita akan disuguhi jingga dalam bentuk indahnya pahala niat saat akan memulai segala. Kemudian menyempurnakan dengan mengucap basmallah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” “Setiap perkara (kehidupan)  yang tidak dimulai dengan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, maka dia akan terputus. Artinya adalah kurang barakahnya.” (HR. Ibnu HIbban)

Kemudian dalam proses ikhtiar (usaha) juga banyak mendapat pesona jingga dari-Nya. Berupa balasan yang menguntungkan manusia.

“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional).” (HR. Thabrani) 

Hingga diujung akan berjumpa pesona senja yang dapat diabadikan menutup hari.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)

Tak semua kita anak senja, atau juga pencinta jingga. Tapi, tetaplah menjadi pemburu pahala dan keberkahan-Nya.

Cordova Street A-03, 01 Juni 2025

#Gerimis30Hari #Gerimis_Juni25_01 #MariBerbagiMakna #MemungutKatakata #reHATIwan #reHATIwanInspiring #IWANwahyudi #InspirasiWajahNegeri @gerimis30hari @ellunarpublish
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...