Langsung ke konten utama

[TANPA ISI]

 



“Agar benih menjadi pohon, ia butuh isi. Agar ibadah bernilai, perlu adanya rasa.”

Kontestasi pemimpin dalam balutan perhelatan pemilu, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah hingga ketua RT sekalipun, merupakan kesempatan besar bagi rakyat yang memiliki hak pilih untuk memilih dan memilah. Sejauh mana para kandidat memang benar-benar punya isi hingga pantas menjadi pemimpin, bukan pemimpi dalam alam khayalan.

Adakalanya tong kosong memang nyaring bunyinya. Pandai berbicara tapi tak berisi, yang keluar hanya pemanis buatan hingga akan menimbulkan penyakit gula darah dalam kehidupan. Tak berisi bukan hanya bisa dikamuflase dengan jago melakukan pencitraan diri, tapi juga bersilat lidah dan minim bicara dalam debat padahal saat pidato sangat jago dan mengebu-gebu.

Benih yang kopong hanya berisi selaput pembungkus luar, tanpa ada isi, mustahil akan tumbuh menjadi tunas. Apalagi menghasilkan buah manis yang diidamkan. Ibadah dan amal bila hanya dilakukan sekedar gugur kewajiban tanpa melibatkan hati. Ia akan hanya berdampak pada lelah semata. Tak ada rasa dan aroma yang hadir, apalagi nilai yang berefek memandu hidup dan kehidupan.

Cukup yang sudah-sudah tertipu membeli dan menanam benih tanpa isi, walau diberi pupuk seperti apapun tak akan tumbuh. Yang hadir hanya gulma pengganggu. Saatnya menaikan level amal dari yang begitu-begitu saja menjadi yang datang dari hati dan menebar rasa juga nilai.

“Adakah benih yang menjadi tunas tanpa isi? Gambar tanpa jiwa tidak lain adalah khayalan.” (Jalaluddin Rumi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

076 [SULTAN ABDUL KHAIR SIRAJUDDIN LAHIR]

  Sultan Ab dul Khair Sirajuddin bergelar Ruma Ta Mantau Uma Jati lahir dilingkungan istana Kesultanan Makassar pada bulan Ramadan 1038 H ( ± April 1627 M). Disamping itu beliau diberi gelar “La Mbila”. Para prajurit Gowa memanggilnya “I Ambela”.   Beliau adalah Sultan ke II Kesultanan Bima. Putra dari Sultan Abdul Kahir I dengan permainsurinya Daeng Sikontu, adik permainsuri Sultan Alauddin Makassar.   Dalam kitab Bo (naskah lama Bima) namanya “Abil Khair Sirajuddin”, tapi pada bagian lain sumber yang sama ditulis “Abdul Kahir Sirajuddin”. Sejak usia kecil ia memperoleh pendidikan agama, ilmu politik pemerintahan juga ilmu perang di lingkungan istana Makassar. Dimana saat itu orang tuanya “berhijrah” sementara ke Makassar dari konflik yang terjadi di Kerajaan Bima.   Ia dilantik menjadi “Jena Teke” (putra mahkota) oleh Majelis Hadat sebelum ayahnya mangkat pada 8 Ramadan 1050 H (22 Desember 1640 M). Menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne” saudari dari Su...

[SEJARAH SEDANG BERGERAK]

Hari ini, Rabu 27 November 2024 sejarah sedang bergerak. Ada 545 kepemimpinan daerah provinsi maupun kabupaten/kota yang sedang menentukan nasibnya untuk 5 tahun kedepan, 2024-2029. Ini pillkada serentak terbesar yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia dengan melibatkan seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Ada 37 provinsi dan 508 kabupaten/kota. Ada pengecualian untuk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sesuai dengan UU nomor 13 tahun 2021 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilakukan penetapan bukan pemilihan. Begitu pula kabupaten/kota di DKI Jakarta sesuai dengan UU nomor 29 tahun 2007 tentang pemerintahan provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan penetapan.  Hampir semua daerah terlibat dengan hiruk-pikuk pilkada. Apalagi tensi kian meningkat sejak masa kampanye dia bulan terakhir. Dan kian memuncak sepekan masa kampanye pamungkas dengan kampanye akbar yang melibatkan massa yang banyak....

[PARA SAHABAT MENYIAPKAN DIRI 6 BULAN SEBELUM RAMADAN] 90 Hari Menuju Ramadan

  Ramadan sebagai bulan mulia dan bertabur kemuliaan dengan pahala yang dilipatgandakan, tentu menjadi peluang bagi siapa saja untuk tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Begitu pula dengan para sahabat ra. Mereka menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk bertemu dengan Ramadan. Bahkan saking ngebet berjumpa Ramadan dan mau gas poll beribadah juga beramal di dalamnya mereka sebagaimana disebutkan oleh ulama tabi’ tabiin Mu’alla bin Al-Fadhl telah rajin berdoa enam bulan sebelumnya. Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Kitab Lathaif Al-Ma’arif   menyebutkan satu riwayat yang menunjukan semangat menyambut Ramadan tersebut. Mua’alla bin Al-Fadhl mengatakan, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadan.” Dalam kitab yang sama Ibnu Rajab menyebutkan salah satu contoh doa yang mereka lantu...