Langsung ke konten utama

[SIHIR SENYUM]

Pernah ketemu sama penjual sesuatu tempat kita mau belanja eh ternyata orangnya jutek, mukanya asem, jangankan senyum melayani aja seakan terpaksa. Dan tentu pada kesempatan lain kita juga pernah ketemu sama penjual yang murah senyum walau wajahnya tak secantik atau tampan penjual versi jutek tadi, rasanya tentu beda ada nuansa hangat yang terbangun, ungkapan ketulusan yang pancar, getaran persaudaraan yang menyetrum dan kenyamanan berbelanja tentunya.

Disuatu tempat yang asing dan baru kita kunjungi, dimana kita juga belum mengenal penduduknya apalagi bertemu bertatap muka. Tentu senyuman akan melambangkan sambutan selamat datang dan memikat hubungan diawal pertemuan, memunculkan rasa bahagia dan tak minder atau rendah diri pada kita.

Begitulah sihir senyuman, sihir yang tak dibatasi oleh usia dan status sosial bahkan derajat ala manusia bagi pemakainya. Sihir yang selalu tajam dan tak tawar berdasarkan kawasan teritorial tertentu mempraktekkannya. Sihir yang tak perlu mengeluarkan mahar apapun untuk mendapatkan ilmu tersebut apalagi harus bersyarat mandi tengah malam dengan bunga tujuh rupa.

Senyum adalah sihir yang halal, lambang persaudaraan, ungkapan yang tulus, surat cinta dan dialog asmara (Aidh Al-Qarni)

Jika kita terkena sihir yang satu ini, penawarnya cuma satu, lawan dengan melebihi energi senyum yang disihirkan pada kita.

Foto : teman satu meja saat di SMP kelas III

13102019
#IWANwahyudi 
#MariBerbagiMakna 
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan 
@iwanwahyudi1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...