Langsung ke konten utama

[LEBARAN TOPAT]

Setelah puasa sebulan penuh dibulan Ramadhan, disunnahkan bagi kaum muslimin untuk berpuasa Syawal selama 6 hari. Dibeberapa daerah, setelah hari pertama Syawal dengan shalat Idul Fitri, hari kedua dilanjutkan dengan puasa syawal. Ramadhan digenapkan dengan lebaran Idul Fitri dan puasa Syawal ditutup dengan lebaran Topat (ketupat). 

Keutamaan puasa Syawal dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164). Mumpung kondisi masih terbawa suasana Ramadhan dan Ruhiyah masih terjaga, maka kebanyakan kaum muslimin langsung menyambung puasa diawal bulan Syawal, agar segera tuntas. Karena walaupun puasa Syawal waktunya hingga tanggal 30 Syawal, dikhawatirkan nanti lupa, lalai dan timbul godaan kemalasan.

Lebaran Topat (Sasak: ketupat) juga menjadi tradisi turun temurun suku Sasak Lombok yang dilakukan pada hari kedelapan bulan Syawal (setelah hari pertama Idul Fitri ditambah Enam hari puasa Syawal). Sebagai lebaran penutup setelah ibadah puasa sunnah Syawal. 

Pagi-pagi sekali tetangga memberikan satu paket lengkap ketupat, opor ayam tahu tempe dan urap. Kehangatan seperti ini akan didapati saat lebaran Topat. Selain menyiapkan ketupat dirumah, pagi-pagi ada yang dibawa ke Masjid atau surau terdekat. Kemudian masyarakat akan berkumpul untuk berdzikir, berdo'a dan ruwah (bersyukur) kemudian ditutup dengan santap bareng ketupat dan bersalaman saling mema'afkan.

Rangkaian lebaran Topat kemudian mengunjungi dan bersilaturahim ke keluarga dan kerabat maupun tokoh, mengunjungi tempat-tempat sakral (ziarah ke makam dan lain-lain), juga mengunjungi tempat-tempat rekreasi bersama keluarga. Tak heran jika hari ini dari pagi hingga sore akan terlihat sedikit kemacetan dibeberapa titik.

Menikmati setiap ibadah sebagai kebutuhan kita, bukan tuntutan ajaran agama semata. Dengan dua kali lebaran dan dua ibadah puasa yang istimewa lebih berlipat-lipat lagi ketaqwaan, persaudaraan dan tobat kita hingga saat lebaran Topat.

12092019
#IWANwahyudi
#MariBerbagiMakna
#EnergiSyawal
#InspirasiWajahNegeri #reHATIwan
www.iwan-wahyudi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

076 [SULTAN ABDUL KHAIR SIRAJUDDIN LAHIR]

  Sultan Ab dul Khair Sirajuddin bergelar Ruma Ta Mantau Uma Jati lahir dilingkungan istana Kesultanan Makassar pada bulan Ramadan 1038 H ( ± April 1627 M). Disamping itu beliau diberi gelar “La Mbila”. Para prajurit Gowa memanggilnya “I Ambela”.   Beliau adalah Sultan ke II Kesultanan Bima. Putra dari Sultan Abdul Kahir I dengan permainsurinya Daeng Sikontu, adik permainsuri Sultan Alauddin Makassar.   Dalam kitab Bo (naskah lama Bima) namanya “Abil Khair Sirajuddin”, tapi pada bagian lain sumber yang sama ditulis “Abdul Kahir Sirajuddin”. Sejak usia kecil ia memperoleh pendidikan agama, ilmu politik pemerintahan juga ilmu perang di lingkungan istana Makassar. Dimana saat itu orang tuanya “berhijrah” sementara ke Makassar dari konflik yang terjadi di Kerajaan Bima.   Ia dilantik menjadi “Jena Teke” (putra mahkota) oleh Majelis Hadat sebelum ayahnya mangkat pada 8 Ramadan 1050 H (22 Desember 1640 M). Menikah dengan “Karaeng Bonto Je’ne” saudari dari Su...

[Kebaikan Kadang Perlu Dipaksakan] #CatatanSyawal 05

  Sudah lama tidak menulis artikel yang agak panjang. Maksud saya dengan panjang 8-10 paragraf. Biasanya 4-5 paragraf ala status Facebook dan media sosial lainnya. Ramadan kemarin coba menantang diri sendiri agar rutin menulis artikel panjang sebulan penuh. Dengan peningkatan volume dan frekuensi ibadah selama Ramadan, saya juga sadar waktu akan menjadi kendala dan alasan yang melemahkan diri. Dan ini selalu berulang dan celah kegagalan. Saya mengajak Kang Syamsudin Kadir agar niatan baik itu terlaksana di website Penerbit Panggita www.panggitapublishing.com. Setidaknya saat saya bolong tidak menulis, goresan beliau menambalnya. Bila beliau kosong, saya wajib mengisi. Alhamdulillah jika kami berdua sama-sama menulis lebih dari satu artikel tiap hari. Gayung bersambut. Sempat datang kekhawatiran, bagaimana bila suatu hari kami berdua sama-sama kosong menulis? Saya coba mengajak seorang sohib lama semasa aktivis mahasiswa dulu, Ustadz Junaidi Ana . Tema seputar Ramadan yang begi...