Secangkir minuman ringan yang menghimpun catatan akan keagungan Sang Pencipta atas berbagai hal yang dirasakan. Selalu ada keajaiban yang Allah hadirkan diluar batas kemanusiaan itu sendiri. Secangkir penyegar tentang perenungan hamparan bumi ini begitu luas bukan hanya dimensi tempatnya semata, namun kekuatan pesan yang diperlihatkan sehingga ada banyak hikmah yang dipetik sebagai sebuah perenungan akal untuk bekal bergerak. Seisi cangkir dari catatan kolaborasi sosial dengan sesama manusia yang membawa terbang dengan banyak hal yang begitu kaya dan luar biasa tentang pengalaman berinteraksi dan kekuatan pelajaran didalamnya.
Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...
Komentar
Posting Komentar