Langsung ke konten utama

[SEBENARNYA KITA PARA MUSAFIR]

Hidup ini sejatinya rangkaian perjalanan-perjalanan yang kemudian bermuara pada kematian sebagai pembatas perjalanan selanjutnya menuju keabadian.

Jika hidup adalah perjalanan, maka mentalitas yang harus dibangun ibarat seorang musafir. Bukan pola hidup mereka yang bermukim atau tinggal berdomisili. Para musafir setidaknya harus menyadari ini agar orientasinya adalah tujuan akhir perjalanan bukan tempat-tempat persinggahan selama perjalanan. Tempat singgah hanya sebagian pengisi waktu jeda sejenak yang akan menambah bekal dan meringankan beban perjalanan.

Musafir selain mengetahui titik finish perjalanan, seharusnya juga memahami peta perjalanan menuju kesana. Memilih jalan yang paling ringkas dan sedikit menghadapi rintangan/hambatan. Jika musafir tersesat ini akan menghabiskan waktu dan energi yang sebenarnya dibutuhkan sepanjang perjalanan, berdampak pada kehabisan logistik ditengah jalan.

Musafir telah cermat mengkalkulasi dan menyiapkan semua kebutuhan. Baik fisik maupun materi. Bekal pikiran, perasaan, jiwa maupun logistik materi. Ia bisa merencanakan seberapa bekal dibutuhkan dan pada titik mana saja bekal dikeluarkan dan diisi kembali pada terminal pengisian.

Musafir dapat mengimajinasikan perjalanannya. Agar mengahdirkan kebahagiaan selama perjalanan. Apa saja yang akan dilalui, dengan siapa saja akan bertemu, apa saja yang dilakukan selama itu dan kenangan apa yang akan diambil dan diingat oleh orang lain dalam proses perjalanan tersebut.

Ramadhan ini bagian dari perjalanan kita sebagai musafir dimuka bumi ini. Jadikan ia sebagai tempat mengambil bekal dan melahirkan kenangan menuju perjalanan keabadian kita.

27052019
#IWANwahyudi 
#MariBerbagiMakna 
#EnergiRamadhan 
#InspirasiWajahNegeri  #reHATIwan 
www.iwan-wahyudi.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

202 [TUTUP BUKU]

Akhirnya kita tutup serentak bersama, usai halaman terakhir dilewati hari ini. Tapi belum tentu jumlah baris dan paragraf nya sama. Ya, malam ini kita hijrah ke buku yang berbeda lagi. Sambungan dari sebelumnya.  Kita hatamkan bersama, namun beda seberapa banyak yang dapat terserap dalam kepala. Durasi yang sama tak mampu mengintervensi dan mengintimidasi agar semua sama.  Isi tinta di pena kita sama, yang berbeda jumlah karya. Walau pernah juga dalam satu antologi. Kemana hilang atau mangkraknya tinta itu tidak ada urusan. Tak mungkin dicuri orang. Kelalaian dan kemalasan yang merampasnya.  Bersyukur Alhamdulillah atas segala senyum, beristighfar tersebab khilaf, kemaksiatan dan kelalaian. Buku kemarin yang terlewati bukan fiksi.  Tutup buku itu dengan segala episodenya. Usap sesal, siapkan nyala untuk membalas semuanya. Tidak sekadar janji tanpa realisasi, retorika tanpa realita,  Titip buku itu untuk nanti diambil kembali. Bersama buku sebelumnya,...

[HIJRAH SEBUAH KEMESTIAN]

“Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan “ (KH. Rahmat Abdullah) 1437 tahun yang lalu sebuah prosesi perpindahan yang tak biasa dilakukan seorang Nabi penutup Muhammad SAW. Perpindahan meninggalkan kampung halaman tempat entah berapa abad lamanya para leluhur tinggal menetap disana. Meninggalkan tidak sedikit orang yang dicintai dan para kerabat. Sebuah gerakan dari Makkah menuju Madinah. Dari sekedar komunitas kecil di Makkah menjadi sebuah Negara dan Peradaban saat di Madinah. Prosesi ini kemudian dikenal dengan Hijrah. Tahapan perjuangan ini kemudian dijadikan sebuah tonggak penanggalan dalam Islam. Sebuah proses Hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat adalah peristiwa yang sangat luar biasa, merubah wajah perjuangan, merubah sebuah metode cara melakukan dan menyebarkan kebaikan hingga semakin menyemesta tanpa kehilangan Ruh dasar keIslaman yang menjadi landasan. Hijra...

137 [MENAKUTI KETAKUTAN]

  Alhamdulillah bisa “numpang” ngopi lagi di kediaman beliau setelah 3 tahun berlalu. Saat saya jadi aktivis mahasiswa dulu, beliau sudah jadi jurnalis surat kabar pertama dan terbesar di NTB, Lombok Pos. Dua pilar demokrasi yang bersinergi. Kami mengawal kritis ala mahasiswa, beliau lewat berita. Dari sana kami lebih akrab. Tiap berkunjung tak lupa saya bawakan buah tangan buku sederhana karya saya. Beliau salah seorang yang sering saya ganggu, untuk dimintai tanggapan isi buku pertama saya dan beberapa buku kemudian. Selain jurnalis, sesekali beliau menulis panjang di laman media sosialnya. Si paling rapih menulis di buku catatan aktivisme sejak masa kuliah ini selalu ada saja ide tulisan yang menarik. Sebab latar itulah saya sering minta wejangan menulis. Berjibaku dengan gerakan mahasiswa sejak ujung era orde baru 1997-1998 yang akhirnya tumbang lewat agenda reformasi. Kemudian menekuni jurnalis dengan berita di rubrik hukum, politik dan pemerintahan tentu tak hanya memerlu...