Assalamu’alaikum
Pagi
“Saat berjalan angkuh di atas bumi, ingatlah
kelak jasadmu akan tenggelam di dalam bumi.”
Keangkuhan itu sebenarnya menunjukan kebodohan.
Merasa pintar, tapi lupa bahwa masih banyak manusia yang lebih berilmu darinya.
Termasuk semesta yang megah ini belum semuanya ia ketahui.
Keangkuhan itu sebenarnya membuktikan kepapaan.
Merasa berada, tapi tak mampu menghitung seberapa besar nikmat dari-Nya yang cuma-cuma
melekat pada dirinya.
Keangkuhan itu sebenarnya menampakan kerendahan.
Merasa tinggi tak tersaingi, padahal sebuah roda kehidupan akan mempergilirkan
posisi di bawah dan di atas. Ia pun tak mampu menghalagi pergantian itu.
Keangkuhan itu sebenarnya tanda keterbatasan. Merasa
berkuasa tak tergoyahkan. Padahal kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki belum
ada seujung kuku yang pernah dianugerahkan pada Nabi Sulaiman as.
Keangkuhan itu sebenarnya menipu diri sendiri.
Merasa adidaya berjalan di mula bumi, tak sadar saatnya meninggal kelak akan
lenyap dimakan bumi.
Kadang keangkuhan
itu pandai berkamuflase. Berupa rasa yang menyelinap jauh dalam jiwa. Merasa
paling rendah hati dan paling tidak menampakan diri.
Berbahagialah
mereka yang mampu berjarak dan tak larut dalam jebakan keangkuhan.
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. Lukman: 18)
@rehatiwaninspiring
www.rehatiwan.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar